Skip to content

Jeritan Penyendiri

8 Januari, 2006

Aku lahir ke dunia
Tanpa mengerti
Kemana aku harus pergi?

Apa yang kucoba jarang benar
Selalu salah; salah siapa?
Siapa menunjuk aku jalannya?
Sejak kapan aku tahu jalannya?

Tersesat
Tak terarah
Bingung
Bimbang
Hidupku untuk apa?
Kemana aku harus berpijak?
Kemana aku harus pergi?
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang perlu kulakukan?

Tolong aku
Jalanku entah kemana

Yang ku tahu apa yang benar
Tapi kedua-duanya baik
Apa yang harus kulakukan?

Diriku
Temanku
Cintaku
Damaiku

Mereka yang disekitarku

Sahabatku
Tak boleh lepas

Persahabatan
Tak boleh hilang

Namun diriku?
Ku hanya berusaha membantu yang lain
Membuat mereka gembira

Mencoba
Menghapus kejelekan yang tertimbun
Dalam
Namun timbunan itu pun tak cukup

Akhirnya lepaslah
Sedikit demi sedikit
Seorang brengsek yang tak kuhendaki
Merasuk
Mengambil kendali

Hilanglah semuanya
Teman
Sahabat
Harapan

Aku hanya ingin mereka gembira
Namun aku akhirnya tertindas

Aku berusaha untuk tidak tertindas
Namun hilang lagi
Teman, Sahabat

Tak ada yang mengerti
Jeritan ini
Aku hidup seorang diri
Tanpa bimbingan
Tanpa mengerti
Tapi
Mungkin
Aku ada tujuan
Ada harapan

Hidupku tak boleh tersia-siakan
Hilang mereka, memang tersesalkan
Tapi aku sendiri
Tak boleh hilang dalam kehancuran
Sekarang, apa yang harus aku lindungi?
Apa yang harus aku korbankan?

Agar mereka kembali
Cita-cita, harapan, harus dikorbankan

Tapi aku telah berjuang mencapai semua itu
Kedua-duanya tak boleh hilang
Mana yang lebih penting?

Bingung, Bimbang

Satu hilang, pedih rasanya
Yang lain hilang, perih rasanya

Apa yang harus aku korbankan?

Mereka adalah mereka
Hidup sesuai keinginan mereka
Arah mereka
Jalan mereka
Cara mereka
Aku adalah aku
Tapi, siapakah diriku?
Siapa jati diriku?
Aku ini siapa?
Siapa?

Adakah diriku yang sebenarnya?
Sebetulnya, sejak kapan aku ada untuk diriku sendiri?
Sejak kapan aku peduli soal identitasku?
Apa mungkin ada seorang Aku yang tersimpan dalam Hatiku?

Kalau ada
Siapakah dirinya?
Apakah dia diriku?
Apakah dia mencerminkan sifatku yang sebenarnya?
Aku ini apa?

Dari dulu
Aku bingung, akhirnya aku hidup hanya untuk mereka
Apakah itu benar?
Tak ada yang memberitahu
Ku coba untuk tunjukkan diriku
Tapi aku takut mereka hilang lagi
Aku tak mau itu
Aku tak mau itu terjadi lagi

Sebenarnya, aku hidup untuk aku
Atau untuk mereka?

Sampai saat ini
Aku belum menemukan Aku yang sebenarnya
Tapi apakah Aku pernah benar-benar Ada?

Dua figur pendukung bertolak belakang
Ikut satu
Dimarahi yang satu lagi

Mana yang benar?

Kini aku terpaksa
Mencari semua fakta
Mencari sebuah jalan
Dengan sendiri

2 Komentar leave one →
  1. 17 Maret, 2007 21.55

    hii Andhika puisi di atas mirip sekali dengan g, penyendiri yach. merasa dijauhi, dimusuhi. tapi lo msh mending umur lo masih muda dibanding g yg mulai kerja dr nov ’06. klo sblm kerja sifat ini masih bisa ditolerir. klo ud kerja sifat ini mengganggu banget… n jg jomblo, so pasti, di usia g yg ud 24 in, blm prnh yg namanya pacaran…
    kadang dinikmati aj, kadang sedih juga, mau keluar dari sifat in, gmn caranya. klo g tanya ke semua orang kesannya g yang ga mau berubah, tapi susaHHH banget. ok sekian aj d. btw hebat oi bisa bikin blog tp bukan di friendster…

  2. sam permalink
    26 Juni, 2012 17.45

    wah ini lah yang saya rasakan sehabis baca puisi ini saya menangis hati saya sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: