Skip to content

Stupidity is Virtue

11 Juni, 2007

Libur dua bulan itu menyenangkan. Despite that it is, sangat membosankan. Sangat, sangat, sangat membosankan. Badai datang dan berlalu. Matahari terbit dan tenggelam. Kafilah boker dan mandi. Oke lah, ngurusin bazaar dan sars nggak ngebosenin, tapi bikin capek. Ngerjain website tuh, yang boring banget. Dan sekarang, gue ikutan nimbrung di DUC jadi kameramen.

Me and Nadh? Oh we’re fiiiiiineee! (pasang muka kayak wong ndeso masuk tipi kalo yang bersangkutan lagi baca)

Ya, lalu apa hubungannya dengan judul? Mari kita tanya sang pakar.

Roy

Oh, rupanya ia sedang sibuk. Gambarnya basbang pula. Tapi so loh gitu what.

Jawabannya, tentunya, tidak ada.

Judul tulisan ini terbesit di pikiran gue saat gue lagi baca buku DO, karangan Arry Risaf Arisandi. Buku yang lucu. Mengingatkan gue pada kisah-kisah Jomblo, Gege Mencari Cinta, dan legenda KambingJantan dan Cinta Brontosaurus. Sayangnya gue belum sempet baca Traveler’s Tale.

Apa makna sesat yang gue ambil? Mati konyol itu nggak enak, tapi hidup konyol itu patut ditulis.

KambingJantan, karangan Raditya Dika, adalah kisah nyata empunya sendiri. Namanya juga blog. Dan berikut adalah komentar seorang monyet, yang menolak disebut nama (majikan)nya.

Kata gue, mereka (sekeluarga) pantes masuk rumah sakit jiwa.

Setelah saya menulis tulisan ini, monyet tersebut akan segera mengamuk karena disebut sebagai monyet. Tapi setelah itu ia akan bungkam karena takut kena somasi.

Buat mas Raditya Dika, saya masih perjaka. Don’t sue me, I beg of you. It’s just a blog post, for fun. Dan Indonesia adalah negara demokrasi. Hiduplah Indonesia Raya.

Bagi yang sudah membaca, tentu tahu bagaimana konyolnya hidup seorang Radith a.k.a. Dika a.k.a. Kambing (bukan kambing yang disembelih buat kurban lho). Bagi yang belum, segera beli di bagian buku laris di toko buku terdekat. Tuh kan, mas RD (wuih, keren amat ye, pake singkatan!), saya promosiin lho bukunya.

Jangan cuman minjem ke temen kayak si Gichie tuh.

So, the point is, punya hidup yang konyol dan otak yang tolol bisa menghasilkan cukup banyak uang, and not to mention a superb work of literature. Kalo kamu emang bisa nulis.

Atau bahasa buat anak kecil, “be yourself.” Emangnya anak kecil ngerti Bahasa Inggris? Kalo anak kecilnya bule sih, ngerti lah, pasti.

Oh, oh. Lupa. Ada kalimat yang diucapin di akhir acara sebuah radio yang bukan RRI: Be yourself, keep funky, no matter what they say. Eh, ada yang salah nggak tuh?

Kalo kata gue sih, what others say does matter. Makes you a better person. And it makes you a better… idiot.

Yeah.

Itulah mengapa gue mendambakan sebuah kehidupan yang konyol.

Seperti kata seorang mahasiswi FPIK Unpad,

“Ini…

itu.”

Hidup kejeniusan tolol!

11 Komentar leave one →
  1. 12 Juni, 2007 3.02

    huhuhu… gak jelas… :p
    ntah ini memang kebiasaanmu post ginian apa engga..
    tapi yang ini nampaknya berbeda🙂

    jadi intinya, kamu pengen blog kamu dinovelin juga?😛
    atau emang ada rencana mo bikin novel bodor???

  2. 12 Juni, 2007 4.32

    hahaha… tp kan ada gak enaknya juga tuh jadi seperti yg kamu bilang..

  3. 12 Juni, 2007 7.31

    Lagi dapet inspirasi aja😛

    Hidup konyol itu gokil, gila… tapi kalo kita nggak bakat bego, sebenernya mending nggak.

  4. 13 Juni, 2007 20.21

    kamu nerapin hidup gokil?
    berarti kamu bakat bego dong..
    *ngeloyorr*

  5. dasar bodoh permalink
    14 Juni, 2007 15.15

    kacau loh,tapi emang lebih baik hidup gokil dari pada minder

  6. 15 Juni, 2007 7.24

    Bos, masak Ohm suryo disebut pakar. ngak salah sebut tu..?😛

  7. 15 Juni, 2007 21.03

    hidup tolol emang enak.
    sebagai seorang yang nggak berbakat utk mjd ilmuwan atau guru yg pinter, gw sering banget mendambakan hal kek gitu. dulu waktu zaman”nya si Lupus masih boom gw pengen hidup di dunianya Lupus. Skrg, bgt kegilaan manusia-Kambing, gw juga pengen banget hidup kek gituh. Tapi, always nggak bisa, gw tetep gak bisa, mungkin karna gw nggak punya komputer yah? (Apa coba hubungannya??). Sesuatu yang pasti, gw pengen menjadi gw, si tolol juga tapi tetep berguna…hehehheh…

  8. 16 Juni, 2007 20.09

    simple but ‘padet’
    good!
    i like it!

    ~oLa

  9. 17 Juni, 2007 13.37

    yep, i TOTALLY agree with u.
    sesaat setelah baca bukunya RD (keren juga ternyata, RD), gw jadi mendambakan kehidupan yg seperti dia itu. konyol, penuh tawa, nampak gak ada stress sama sekali (baru nampak lho.. sebenernya hidup tanpa stress itu membosankan hehe).
    yg seperti itu juga enak buat diceritain, orang juga gak bosen dengernya. konfliknya itu yah: konflik konyol. yaa gitu2 deh susah juga njelasinnya.

    btw gw udah lama tau blog gak waras yang selama ini mengungkit2 nama “gichie” alias.. yu know lah, yg banyak dipajang gambar monyed dsb dsb. tapi gw ga tau siapa peranan dibalik blog gag waras tsb. sampe gue cari di google akhirnya nyampe ke sini deh *dijitak1000x*

  10. 17 Juni, 2007 14.30

    ops..! sampai disini lagi gw

  11. 18 Juni, 2007 20.57

    for god’s sake,
    nisrina fakhriati gga ngerti..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: