Skip to content

Heroes?

3 Desember, 2007

Abis baca blognya Venny, gue jadi dapet inspirasi. Hari guru udah lewat, tapi gue tulis aja deh.

Guru. Pahlawan tanpa tanda jasa. Ya… begitulah katanya.

Mari kita beranarki.

Sekarang, banyak banget guru yang ngajar di sekolah-sekolah ‘papan atas’, semata-mata demi nama, demi uang, demi harta. Guru-guru yang nggak niat ngajar, yang cuma mentingin honor… yang…

Oke, gue gagal beranarki.

Guru-guru yang gue kagumi adalah guru-guru yang asik. Guru-guru yang bersahabat. Guru-guru yang baik hati, yang bekerja demi siswa-siswi yang diajarnya.

Tapi, sebenernya, apa sih fungsi guru?

Untuk ‘mengajar’? Untuk ‘mendidik’?

Maksudnya apa coba?

Yang gue tau sih, paradigmanya tuh, kita sekolah buat ‘belajar’. Buat ‘menuntut ilmu’. Tapi lu semua pastinya setuju kalo di sekolah tuh, tempat kita bergaul men. Tempat kita melakukan interaksi sosial.

Gue suka membagi guru menjadi beberapa jenis.

Ada guru yang gaul, yang aktif, yang friendly abis. Guru-guru kayak gini menekankan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Biasanya, UK-UK (uka-uka, eh, maksud gua, uji kompetensi) yang mereka lakukan sifatnya tuh praktik. Biasanya yang kayak gini tuh guru bahasa.

Ada juga guru yang ngajar panjang lebar. Biasanya yang kayak gini tuh guru fisika. Guru-guru kayak gini tertekan dengan materi yang banyak banget, jadi mereka harus meng-compress materi yang mereka ajar sedemikian rupa…
sampai titik di mana kita jadi bingung.

Ada juga guru yang terpaut banget sama diksi. Gue selalu heran, bedanya FUNGSI, PERAN, TUJUAN, syalalala. Yang jelas, menurut buku, istilah-istilah itu dibedakan, jadi jawabannya harus beda. Hal ini menyebabkan jawaban kita penuh dengan bacot yang menurut gue nggak penting. Sodara-sodara, benar, hal ini berlaku pada pelajaran ilmu sosial.

Tiga stereotipe di atas gue sambungin sama pelajaran-pelajaran tertentu. Tapi ada satu tipe guru yang nggak enak, dan tipe ini tuh universal.

Nggak sedikit guru-guru yang terpaku pada satu pelajaran dan nggak terlalu menguasai pelajaran tersebut. Lalu guru-guru yang ngeyel aja, jaga imej mereka yang seharusnya berwibawa, dan nggak mau ngalah sama pendapat siswa.

Jujur aja, gue nggak gitu suka sama guru-guru kayak gitu.

Menurut gue, guru yang baik tuh guru yang bisa bikin siswanya enjoy, sepusing apapun mereka dengan konsep gerak parabola.

Tapi gue tau, tiap guru punya style masing-masing.

Sekarang, tergantung kita juga.

Kata gue sih, nggak salah-salah amat nyalahin guru yang -maaf- rada nggak becus. Asalkan kita udah coba usaha sendiri buat belajar.

Guru bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Ilmu itu ada di mana-mana.

Tapi salah juga kalo pelajaran kurikulum diabaikan. Which is something I do. Alhasil, nilai gue rata-rata nggak tinggi-tinggi amat.

Beuh. Gue ngomong apaan sih?

4 Komentar leave one →
  1. 5 Desember, 2007 10.52

    banyak yg bilang.
    pengalaman adalah guru yg baik.
    guru yg baik belum tentu berpengalaman
    *naon deui :p

  2. 5 Desember, 2007 13.13

    ADEUUH NILAI GUE GA TINGGI2 AMET! HAHAHAHAHAHA IYA DEEEHH SMART.

  3. 5 Desember, 2007 20.57

    translation: 65an.

    ga tinggi-tinggi amat kan? tapi ga remed.

    naondeui!

  4. 15 Desember, 2007 21.46

    Cih, dia ga remed!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: