Skip to content

Saya.

21 Januari, 2008

“Be yourself.” Jadilah diri sendiri. Kalimat itu sering diucapkan saat seseorang sedang bingung dengan jati diri mereka.

Tapi bagi saya, jati diri hanyalah ilusi. Hanyalah topeng di balik sesuatu yang lain. Mungkin sesuatu yang jauh lebih kompleks, atau sebaliknya, justru sesuatu yang jauh lebih simpel.

Lalu, ‘siapakah’ saya? Apakah definisi dari kata tanya ‘siapa’ itu sendiri?

Saya adalah apa yang saya lakukan. Saya adalah saya yang selalu melakukan apa yang selalu saya lakukan. Saya adalah saya yang tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan.

Saya adalah pikiran-pikiran saya. Saya adalah mimpi-mimpi saya. Saya adalah impuls saraf dalam otak saya. Tapi saya juga ada, dalam benak Anda. Saya adalah impuls saraf dalam otak orang-orang yang mengenal saya. Saya adalah memori; saya adalah kenangan. Saya adalah imajinasi; saya adalah residu interaksi.

Saya adalah fakta. Saya adalah seekor homo sapiens sapiens. Saya adalah raga; Saya adalah nyawa.

Andaikan ‘saya’ di mata saya dan di mata Anda memiliki sifat-sifat yang berbeda; andaikan ‘saya’ di pikiran Anda adalah substansi dari kata-kata yang berbeda dengan ‘saya’ di pikiran saya sendiri, apakah semua itu penting?

Untuk apa kata-kata yang konstan untuk mendeskripsikan diri kita sendiri, jika seekor kupu-kupu kecil dapat menyebabkan angin topan yang dahsyat?

Mungkin seseorang dapat membenci saya. Mungkin seseorang dapat menyayangi saya. Mungkin saja seseorang dapat mencintai saya.

Identitas diri hanyalah persepsi. Maka itulah saya. Saya adalah persepsi. Bagi Anda, saya adalah ‘saya’ menurut Anda. Bagi saya, saya adalah ‘saya’ menurut saya. Bagi dia, siapapun dia, saya adalah ‘saya’ menurut dia.

Prosa ini hanyalah satu elemen dalam infinitas persepsi mengenai diri saya. Satu titik, sebagai representasi dari ‘sesuatu’ di balik semua itu. Di balik semua ini. Setidaknya, menurut saya; dalam persepsi saya.

(This was an essay for LKS LV. Doain ya!)

12 Komentar leave one →
  1. 17 Januari, 2008 6.16

    faporit aku yg mana cik?

    Prosa ini hanyalah satu elemen dalam infinitas persepsi mengenai diri saya. Satu titik, sebagai representasi dari ‘sesuatu’ di balik semua itu. Di balik semua ini. Setidaknya, dalam persepsi saya.

    GOODLUCK!🙂

  2. dblackwitch permalink
    20 Januari, 2008 23.46

    “Be yourself.” Jadilah diri sendiri. Kalimat itu sering diucapkan saat seseorang sedang bingung dengan jati diri mereka.

    –> bisa aja itu diucapkan sama orang yang udah tau pasti jatidirinya, trus dia mengangggap dirinya berbeda… dan dia ngga mau jadi orang yang “sama” sama orang lain walopun dai dicela orang-orang setipe…

    duh, ngga bisa nulisnya… intinya mah gitu weh lah..

  3. 21 Januari, 2008 20.54

    lalu dia akan berubah, atau tidak berubah, ya terserah dia juga deh akhirnya mah.

    haha.

  4. zitok permalink
    22 Januari, 2008 5.10

    Omg. That was confusing, even in English it was confusing, especially the fourth paragraph.
    Btw, I don’t think you should’ve used that one-sentence paragraph near the start…but…ngeh…
    Though I like how you say a person’s identity is only in the eye of the beholder, that always gets over looked in pieces of writing about ones identity.(I used “one” as a pronoun..
    Lucks with the essay
    P.S. al ways talking about yourself, how much more up yourself can you get..
    maaf ya kalo nggak bisa baca bahasa Inggeris … oh yeah…. you lived in Oz for like how long…. I’m so stupid

  5. 22 Januari, 2008 12.04

    zitok: i’m glad it was confusing. lol. i was in aussie for 4 years, last time i checked.

    and it’s spelt Inggris, not InggEris.

  6. 22 Januari, 2008 17.19

    um.,
    kurang mengerti yg kau tuliskan.
    hehe.

    – oLa –

  7. zitok permalink
    23 Januari, 2008 15.42

    Dhika: both spellings are accepted fool:P

  8. 23 Januari, 2008 17.09

    WAW.
    berat. ckck.
    gudluck chie!

  9. 25 Januari, 2008 21.33

    Mendeskripsikan diri itu pertanyaan yang paling menarik, pernah terlintas dalam hati ketika kita berkata “aku ini penipu besar” sedikit sedikit kita perbaiki sifat itu, ada juga yang tetap dengan ungkapan itu, hingga akhirnya dia menjadi penippu..

    hehe, salam kenal

  10. 26 Januari, 2008 15.40

    kayak filsuf lo chie😛

  11. Arie plenuk permalink
    26 Januari, 2008 19.07

    opo sih?

  12. 30 Januari, 2008 10.19

    Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

    http://www.lintasberita.com/Lokal/Saya-/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: