Skip to content

Terlalu Mendung

5 November, 2008

bandung hujan bandung berawan

awan mendung awan putih

putih putih putih

biru kalah oleh putih

cahaya menembus putih

translusen atau apapunlah, tapi hanya putih

putih dan terlalu putih

bukan putih surf, tapi putih awan

aku bosan dengan putih, aku rindu biru

langit biru cerah bermatahari

tapi putih mengambilnya

awan mencuri matahari

kembalikan matahariku, awan!

4 Komentar leave one →
  1. agunk agriza permalink
    30 November, 2008 7.14

    tapi bagiku :

    pagi biar kusendiri, jangan kau mendekat, wahai matahari ..πŸ˜‰ wkwkwk

    geje ya? hhi
    salam kenalπŸ˜‰

  2. ArieL, FX permalink
    1 Desember, 2008 4.21

    aduh..

    spitles mulu..

  3. 4 November, 2009 22.58

    Sebentar… saya mau mikir dulu tentang awan putih yang mencuri matahari.

  4. CAKRA WALUYA WIRAPATI SURAMANGGALA permalink
    24 Juli, 2013 10.22

    SAMPURASUN KULAN.
    Nimbrung Syair

    β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€β–€
    SAHABAT ALAM
    Mandalajati Niskala, th 2000

    Penaku adalah akar-akar dari hutan yang terbakar.
    Penaku adalah jiwa, yang tintanya darah-darah dari hati yang suci mengalir.
    Penaku adalah filsafat dan ilmu, yang tintanya alam semesta global.

    Alam tak bertapal batas membentang DITERKAM DADA.
    Tebaran bintang berenang menantang untuk disapa.
    Bulan mengiringi satelit, dan bumi ini sangat kecil.
    Disana cakap, dusta dan pengkhianatan direka.
    Akalku dipaksa meninkari kebenaran.
    Tentu aku tak mau.
    Bahkan dari dulu aku tak setuju.
    Aku ini manusia di zaman batu.
    Buta kaidah-kaidah mufakat.
    Buta warta.
    Buta buku reka-reka.
    Tapi, mungkin saja ku dapat bongkar rahasia dalam rentang yang terlewat
    Dalam perjalanan masa yang panjang kedepan.
    Dan kunamakan diriku Pujangga Gelombang Baru.

    Lucu kiranya !
    Kabarku semacam pepohonan.
    Tanah-tanah pijakan yang menghampar.
    Api yang membakar tergenggam bumi.
    Air yang mengalir.
    Lautan lepas
    Angin semilir.
    Taufan yang menghempas menghujat.
    Gunung yang menjulang menghujam.
    Halilintar yang mengincar nyawa-nyawa.
    Gelombang lautan yang terbang menerkam,
    Semuaya menelan nafas-nafas daratan.
    Memberikan pelajaran pada berita dusta.

    Tanda-tanda alam memberi isyarat.
    Gempa dan gerhana meloncat-loncat.
    Khatulistiwa yang panas smakin membara.
    Kutub yang bersalju kehilangan beku.
    Nafas yang mendesah dalam tubuh-tubuh mahluk terantuk.
    Ruh yang menyatu memberilan sinyal.
    Jiwa yang terkontak dari zat yang berakal rusak kehilangan fitrah.
    Yang serakah dan mencengkram, tertera.
    Yang susah dan kelaparan tengadah pasrah, terasa.
    Yang tertekan dan bersabar.
    Yang teraniyaya dan ikhlas.
    Yang air matanya dapat mengundang kekuatan jagat.
    Mengng…getarkan dadaku sampai ke ujung maut.

    Alam ini tak akan kehabisan cerita bagi pujangga.
    Aku tumpahkan berita ini dalam karya.
    Aku ini sepertinya pujangga bebal.
    Mulutnya lancang.
    Nyelonong menerobos lorong kosong.
    Kosong dari sahabat pena dan canda-ria.
    Membingungkan.
    Aku atau siapa ?

    Biarlah mulut orang apa bicara.
    Mata biarlah merdeka menatap.
    Walau ternyata, nanar tak hilang jua.
    Telinga mengiang dari reka berita dusta.
    Aku tak tahu semua itu.

    Aku tahu bukan dari cara wajahku meraba.
    Semua punya detak-detak jiwa.
    Dia akan meloncat dari tubuhnya.
    Berita itu yang kugenggam.
    Jika aku tak mampu.
    Kumohon Tuhan menolongku.

    Penaku adalah cahaya dalam gelap gulita,
    yang tintanya gelombang jagat dari Sidratul Muntaha.
    Penaku adalah malam yang tenang,
    yang tintanya embun jatuh menyejukan rumput-rumput yang muram dan kusut.
    Penaku adalah telaga harapan,
    yang tintanya air yang bening bagi orang-orang yang bersuci.
    Penaku adalah udara segar,
    yang tintanya angin sepoy-sepoy basah bagi musyafir yang kelelahan.
    Penaku adalah jihad, yang tintanya darah-darah semerbak bergerak tenang.
    Penaku adalah do’a setajam pedang, yang berkelabat bagi para penghianat.
    Penaku adalah cita-citaku, dan Tuhan di ujung sana menatap rindu.

    50 Puisi Filsafat Gelombang Baru

    Sang Pembaharu Dunia Di Abad 21

    β–ˆβ–€β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–„β•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–€β–ˆβ–€β•‘β–ˆ
    β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ–„β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ–„β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ–„β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ–„β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆ
    β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β–€β•‘β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β•‘β–€β•‘β•‘β–€
    β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–€β•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ–€β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ–€β–ˆ
    β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β–€β–€β–ˆβ•‘β–ˆβ–€β–€β–ˆβ•‘β–ˆβ–„β–ˆβ•‘β–ˆβ•‘β•‘β–ˆβ–„β–ˆ
    β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β–€β–€β•‘β–€β•‘β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β•‘β–€β–€β•‘β–€β•‘β–€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: