Skip to content

Kekerasan, Media, Guru, dan Displin Siswa

11 Desember, 2008

Oke, baru-baru ini, kemaren malahan, diberitain di tv besar-besaran, ada seorang guru di sebuah provinsi di sebuah Indonesia yang menampar siswanya.

Video adegan tersebut direkam oleh teman siswa-siswa itu, lalu ditayangkan secara eksplisit di tv.

Plak plak plak.

Oke, menampar tanpa alasan yang jelas dan dengan muka garang cuma untuk nafsu atau sok keren, that sucks. Nggak banget. Tapi bukan berarti guru kita ini adalah preman jalanan yang cuma pengen malak anak orang.

Kalau kita lihat keterangan beliau, katanya anak-anaknya pada nggak sopan a.k.a. nggak beretika, atau kita sebut saja ‘nggak berdisiplin’ se-vague apapun kata ‘disiplin’ itu, saya rasa Pembaca ngerti lah intinya apa.

Sang guru bermaksud baik, dan setidaknya menurut beliau, beliau sudah memberi peringatan-peringatan terlebih dahulu, baru pada klimaksnya para perpetrator dibariskan dan ditampar, satu demi satu, satu kali, di pipi.

Dan yang bisa kita lihat di video itu, yang ditampar itu cowok-cowok.

Not too harsh, I’d say. Tapi oke, kalau menurut standar orang-orang, menampar secara fundamental bukan sesuatu yang bagus.

Tapi dalam kasus ini, ada sebuah kesalahan yang diperbuat, diulang, lalu akhirnya baru dihukum.

Siswa yang kena hukuman mengerti konsekuensi yang akan mereka terima, dan mereka sepakat. Tentunya kalau tidak terjadi kesepakatan sebelumnya, siswa akan membangkang, betul?

Atas dasar itulah, saya menyesali keputusan bahwa sang guru, saya lupa namanya, harus dicabut dari pekerjaanya sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Saya memang tidak kenal dia, saya memang tidak tahu secara personal dan langsung mengenai kualitasnya sebagai seorang guru, tapi sebagai seorang manusia yang berakal, saya menyesali hal itu.

Lalu kita lihat sudut pandang lainnya. Para siswa. Setidaknya satu orang diwawancara oleh wartawan dalam liputan berita tersebut.

“Apa kamu ditampar juga?”
“Iya.”
“Tapi kamu ikut ribut?”

Beberapa detik keheningan, jelas terlihat raut wajah resah di muka siswa tersebut, lalu akhirnya ia menjawab,

“Tidak.”

Mungkin kalau kita percaya pada pernyataan guru di pemberitaan, seharusnya kita percaya juga pada si siswa.

Tapi saya pribadi lebih meragukan jawaban sang siswa. Kenapa? Pertama, jawabannya ragu dulu. Keduanya, di video jelas terlihat kepasrahan dan kerelaan masing-masing ‘korban’ untuk ditampar.

Kalau sudah terjadi kesepakatan, dan penamparan bertujuan baik, memang itulah yang seharusnya terjadi.

Jadi, tidak ada masalah, sebenarnya.

Hanya ada media yang ingin bahan berita, yang mungkin tidak selalu buruk. Hanya akibatnya menjadi fatal karena memperbesar masalah kecil, bagi sang guru, bagi sekolah itu, bagi dinas pendidikan setempat, malahan sampai ke DPRD.

Mungkin menampar bukan solusi terbaik, tapi menurut saya itu masih solusi yang wajar, dengan tujuan yang jelas, dan tanpa output yang terlampau jelek seperti geger otak atau meninggal dunia.

Apabila orang tua siswa menganggap hal tersebut sebagai masalah, saya rasa untuk kasus ini, perbincangan damai antara kedua belah pihak sudah cukup. Kalau orang tua siswa tidak merasakan hal ini sebagai masalah, atau mungkin anaknya memang nakal, maka tidak apa-apa. Tidak ada yang geger, tidak ada yang meninggal.

Namun dengan pemberitaan media massa, seolah-olah hal sesepele ini menjadi masalah dua ratus juta orang rakyat Indonesia. Lalu kepala sekolah pun pasti akan mengatakan bahwa ia menyesal. Lalu para legislator di DPRD akan merasakan gairah untuk berpartisipasi dan memanggil sang guru untuk dibahas bersama-sama. Lalu siswa yang diwawancara, bagaimanapun juga, akan menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahwa menampar itu mutlak salah, karena memang itulah tema dari berita tersebut.

Lalu masalah tersebut klasifikasinya menjadi masalah besar karena sudah masuk TV. Dan karena masalah tersebut besar, maka hukumannya besar, dan sang guru dipecat.

Dan media akan memberitakannya lagi, kali ini sebagai berita yang positif, bahwa sang guru sudah dipecat.

Dan semua berita itu akan menjadi buah bibir masyarakat seputar dunia pendidikan Indonesia yang akan dianggap masih kental akan kekerasan yang tidak beresensi.

Seharusnya tidak usah seperti itu.

Seharusnya, menurut saya, pak guru tetap saja jadi guru.

Seharusnya, tidak ada berita apapun tentang pak guru dan caranya mendidik yang mungkin kontroversial.

Menurut saya sih begitu. Just a thought.

10 Komentar leave one →
  1. 13 Desember, 2008 15.16

    hmmm

    secara sekolah gw cukup keras. begitu mah udah biasa

    jadi setuju2 aja kalo gurunya dipecat.

  2. 14 Desember, 2008 15.20

    masalah sebenernya tu degredasi mental masyarakat. nampar dikit2 doang dibesar2in.

    apa yg dipkirin orang2 waktu ngeliat video itu tu :

    “tu guru apaapan si ?! ga punya malu apa nampar2 anak orang ?”
    “emang ga ada cara lain apa ?!”

    pikiran2 kyk gtu tu sebenernya pelarian bwat mereka karena mereka ga suka adanya hukum

    analogiin guru tu aparat hukum dan murid itu yg orang dihukum

    orang yg mrotes guru tu ga cerminan kalo mereka ga suka adanya polisi dan mereka ga mau dihukum walaupun mereka tau mereka salah dan udah ketangkep basah.

    itulah mental orang sini. sok bener, ga mau ngaku salah, GA JUJUR

    sikap kyk gtu yg akhirnya melahirkan masyarakat mental tempe. mereka lari dari kesalahan yg mereka buat dan menyalah2kan orang lain.

    kalo nabrak mobil orang, trus yang punya ga ada, mereka lari aja tanpa tanggung jawab.

    kalo masuk pengadilan, sewa pengacara banyak2 (mahal2 lagi) buat “ngebela” mereka.

    kalo guru nampar, rekam, masukin media massa byar tu guru disalah2in.

    kalo tu murid emang salah, knapa ga boleh dihukum ?

  3. 14 Desember, 2008 17.02

    yep, secara mereka udah dikasih tau dulu. kalo belum dikasih tau, tah baru masalah.

  4. ArieL, FX permalink
    15 Desember, 2008 4.05

    jadi salah siapa?

    guru? murid? atau media?

  5. yorga permalink
    16 Desember, 2008 19.23

    Idem,

    Begitulah opini publik dibentuk, sama halnya dengan Syeh Puji atau poligaminya aa gym

    Dulu juga Pa Cucu nendangin -maaf- pantat anak-anak angkatan 2009 yg doyan mabal ga masalah, ga di ekspos, ga dipecat.

    Yaiyalah secara gitu kepala sekolah.

    Ci, blog urang pindah, wordpress n

  6. 19 Desember, 2008 17.50

    hmm. klo mukulin murid gitu termasuk pelanggaran HAM gak sih?

  7. 19 Desember, 2008 21.59

    dimasukin penjara karena mencuri itu juga pelanggaran HAM.

    tapi itu, dan ini, boleh-boleh aja, soalnya tujuannya baik.

  8. phi permalink
    16 Februari, 2009 12.42

    well,im quite agree with u..
    tp kalo syeh puji gw ga suka😛

  9. 14 Maret, 2009 10.27

    Mereka sih belum pernah ngerasain jadi guru, apalagi guru SMA. Bukannya membela guru walaupun tidak semua guru baik dan benar. Saya sih pernah jadi guru honor SMA swasta ngajar bhs inggris & komputer selama 5 tahun dan gue disiplin bangat, sering hukum anak2 yang bolos, mabuk di kelas, ngerokok, sampai yang berambut gondrong nggak luput dari pengawasan aku. Jadinya para siswa nggak berani macam2. Menampar dan menendang siswa sudah jadi hidangan yang teratur tapi nggak niat sampai merusak anak didik loh, paling tinggi tenaganya 10%, setelah itu saya memberi wejangan agar tidak melakukan perbuatannya kemudian minta maaf kepada siswa tersebut di depan teman2nya supaya dia merasa tidak terlalu drop.

    Tapi dengan maraknya pemberitaan yang selalu menyalahkan guru, jadi keder juga aku hehehe. masalahnya pembelaan yang dilakukan oleh guru tidak selalu dianggap benar. Nggak ada sih uu perlindungan guru. Akhirnya ganti profesi menjadi instruktur kursus.

    Anak2 SMA sekarang terlalu dimanja, seperti UU perlindungan anak, pendidikan gratis, terus media yang selalu memberitakan kesalahan guru. Akibatnya diantara mereka yang nakal bertambah kurang ajar pada guru, tidak mau mendengar, tidak sopan, berlangsung setiap hari dan itu sebenarnya lebih menyakitkan hati seorang guru dari pada sakitnya sebuah tamparan. Sekarang tidak sedikit guru yang takut kepada muridnya yang bandel. Tidak sedikit guru sekarang hanya bisa mengajar mata pelajaran, tapi fungsi untuk mendidik siswa lumpuh total. Kalau sudah begini kegagalan siswa jangan sepenuhnya disalahkan kepada guru. Guru juga manusia yang butuh makan dan menghidupi keluarganya. Mestinya pihak-pihak terkait bisa lebih adil dalam memberikan sanksi.

  10. Tri Sianna W permalink
    26 Maret, 2009 13.24

    Iya, aq setuju dgn Khalil. jaman skrg smua dibesar-besarin. mendidik anak kandung sendiri az sulit apalagi mendidik anak satu sk0lah, bkan anak kandungny lg. wuih menurutq itu peng0rbanan lahir en batin bgt. malah2 lbh perhatian k murid timbang anak kandungna, liat az jam tatap muka dgn murid lbh gedhe ktimbg dgn anakny.
    p0k0kny, menurutq hukuman itu perlu untuk mendidik anak, agar anak tau mana yg bener en mana yg ga sepatutny. c0s kal0 gak gt, ntar gedheny pas jd 0rang ga berhasil dia malah nyalahn guru ma 0rtuny, dgn alasan ga dididik disiplin dgn bner, makany skrg jd 0rang ga pinter en bikin 0nar,
    nah l0?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: