Skip to content

ALSA 09, Part 1

24 April, 2009

Suatu siang hari di PIM, gue mau ketemuan sama Rina di Gramedia.

Maka gue bertanya kepada Pak Satpam.

Pak, PIM di mana ya?

The 13th ALSA National English Competition 2009 adalah sebuah lomba. Right. But it wasn’t only the debating that kept me company.

Rabu, 16 April kemaren, LO gue, Monic, ngasih tau bahwa besoknya harus rereg alias daftar ulang. Jam tujuh pagi. Gila aja, orang kita baru berangkat dari Bandung tuh siang-siang. Akhirnya dia bilang gapapa, nyusul aja gapapa, tapi kalo bisa dateng pagi-pagi besoknya ya ga masalah.

Ya udah, jadinya gue berangkat duluan jam 10 besoknya, bawa-bawa persayaratan syalalala. Sendirian. Alone. Kayak judul film apa gitu ya. Ehem.

Kamisnya, gue baru packing pagi-pagi, trus buru-buru ciao ke sekolah jam 9 kurang. Travelnya jam 10, dan semua persyaratan gitu belum gue isi. To to the LOL kan? Tapi kalo to to the LOL, jadinya toilet ketawa terbahak-bahak. Naondeui. Yak, sesampainya di sekolah, orang-orang lagi pada nonton T’sT di acara doa bersama, pakai seragam, dan gue nongkrong aja gitu di luar pake jeans dan kaos. Asoy. Akhirnya Rany, Juan, Citra, sama Ivan bisa keluar juga, jadi gue mintain tanda tangan sama foto, dan langsung cabut ke Baraya.

Oh ya, Marini belum ngasih ya? Tapi biarin ah. Daripada gue ngaret ditinggalin. Sampai di depan Baraya malahan gue ditelponin, takut ilang. Kayak kucing ilang. Bukan kucing garong. Tapi gimana kalo kucing yang garong adalah ilang? Atau kucing yang ilang adalah garong? Tapi gimana caranya kucing garong bisa ilang, kalo nggak ada yang menghilangkan? Dan bagaimana pula caranya kucing yang ilang bisa kucing yang garong, jika kucing yang tidak hilang bukan kucing garong?

Ah, syllogism. Iwan said Rivan’s gonna teach us that at the Camp. THE CAAAAMP~!

Dan dengan bahagia abadi senantiasa sentosa loh jinawi gue pun terduduk termenung di dalam travel. Di kursi depan. Di belakang kaca depan, alias windscreen. Di sebelah pintu (riiiiiiiiiight). Dan travel murah seharga 45 ribu saja pun mulai bergerak menuju Lenteng Agung.

Dan akhirnya nyampe juga. Jalan ke rumah tante gue, trus dianterin deh ke FHUI.

Dan Monic pun SMS. Katanya, udah telat kalo mau rereg hari ini. Beu. Ya udah, akhirnya gue nonton exhibition, nongkrong bareng Irfan, trus Monik (bukan Monic), dan bermimpi tentang THE CAAAAMP. Tapi lalu mereka harus latihan lagi buat lombanya, dan gue pun tertinggal sendiri.

So, gue ngebolang. Gue naik bikun dari FH ke stasiun kereta UI. Gue mau naik KRL! Gila, makhluk semacam apakah itu KRL? Apakah ia punya hidung yang pesek? Apakah ia ditenagai oleh listrik? Aku belum pernah tahu, maka aku ingin tahu. Tahu Sumedang. Eh, mending Tahu Tauhid.

Gue pun berjalan ke loket… mana ya loketnya? Ah, ada antrian orang. Ini kayaknya, loketnya. Beli tiket yang mana ya? Aduh, gue belum pernah naik KRL gitu loh! Aku bingung~! Tapi berhubung mas-mas di depan gue beli sesuatu yang bernama “EKONOMI JAKARTA”, gue ikutan deh. Nama benda itu terdengar logis. Gue mau ke Jakarta dan nggak mau bayar mahal-mahal. Tampaknya nama tiket yang cocok buat gue emang “EKONOMI JAKARTA”. Ya udah, gue pun beli satu biji. 1500 saja. Gila, luar biasa murahnya!

HAHAHAHA NORAK.

Lalu pertanyaan berikutnya, YANG MANA YA, KERETANYA? Ada satu kereta yang bentar lagi berangkat, itu bukan ya? Aduh, mas-mas depan gue ke mana pula? Jangan-jangan dia malaikat. Naondeui. Akhirnya dengan bijak gue pun memilih untuk nggak naik kereta itu. Takut nyasar.

Lalu ada satu lagi kereta yang ke arah berlawanan. Tapi “ke arah berlawanan” itu berarti ke Bogor atau ke Jakarta? Aduh, bingung.

Akhirnya gue putusin buat naik kereta yang ke arah pertama, dan gue pun mengadu nasib dengan naik itu.

First impressions? Keretenya nggak penuh sama sekali. Ada yang berdiri, tapi itu karena kursinya basah. Jakarta baru ujan, jadi nggak panas. Lumayan, kayak di angkot aja, tapi GEDE BANGET. Dan lebih murah!

Di kereta, ada beberapa orang yang jualan. Pertama, ada bapak-bapak yang jualan telor puyuh, kacang, dan lain-lain. Biasa aja. Yang itu jualannya pake sebuah mekanisme yang dibawa dengan diangkat. Kalo ada yang beli, tapi perlu kembalian, dagangannya bisa digantung ke baggage compartment. Kreatif.

Lalu yang kedua, jualan tahu sumedang. Yang ini mekanisme dagangannya beda. Bentuknya kayak trolley, dibuat dari stacks of fruit containers, presumably each containing tahu sumedangs (HAHA TAHU SUMEDANGS). Di bawahnya ada roda, jadi bisa didorong, walau agak stabil. Penjualnya nggak perlu capek-capek, tapi mobilitasnya lebih rendah daripada yang pertama tadi.

Lalu ada ibu-ibu lewat juga. Jualannya ajaib. Baru pertama kali ini gue liat ada orang jualan racun tikus di KRL. Oke, gue emang belum pernah naik KRL before, tapi tetap terdengar… unik! Ibu-ibu ini juga berjualan gunting dan home appliance lainnya. Harganya lima ribu. Dan ada ibu-ibu lain yang beli racun tikusnya.

I guess you only have that in Indonesia.

Kereta berhenti di Manggarai. Terminus, kayaknya (SOOOTOOOOOY!). Rencananya sih gue pengen ke Kota, biar jauh sekalian, tapi keretanya berhenti di Manggarai, dan gue pun bingung lagi! Gue coba nongol ke luar, ada busway gak ya? Kalo busway, gue udah lumayan hapal. Tapi kalo kereta, nggak ngerti bo.

Karena nggak ada busway dan cuma ada metro mini dan bajaj, akhirnya gue naik kereta balik ke arah Depok.

Tapi karena gue iseng, gue turun di Pasar Minggu. Waktu ke arah Manggarai tadi, gue liat ada tulisan TERMINAL PASAR MINGGU. Usually, kalo ada terminal bus, ada feeder busway juga. Tapi ternyata gue sotoy. Nggak ada busway, yang ada cuma bus kota dan angkot.

Akhirnya gue naik angkot. Kata Tante gue sih, waktu berangkat ke UI, kalo naik angkot dari Pasar Minggu, pasti lewat rumah. Ya udah, gue pun nyoba, dan just in case, gue konfirmasi dulu ke sopirnya.

Bang, (weits pake BANG), lewat TANJUNG BARAT nggak?”

Katanya, Iya. FYI, Tanjung Barat adalah nama stasiun yang terletak tepat di depan rumah tante gue. Tapi ternyata nama stasiun tidak selalu merepresentasikan nama daerahnya.

Angkot semakin menjauh dari rel kereta.

Akhirnya gue sampai di sebuah daerah, entah di mana.

Gue nyasar. Dan gue pun meng-sms temen gue, cerita bahwa gue ngebolang dan gue nyasar.

Mas-mas di sebelah gue baca. Dengan sopannya, dia bertanya, “Emang mas mau ke mana? Tanjung Barat udah lewat lho.”

Dengan santainya gue jawab, “Oh, nggak, cuma jalan-jalan aja. Ngebolang.” Dan gue pun nyengir kuda. “Itu jalur busway ya?”

Dia mengangguk, dan gue pun pamit. Gue turun di seberang halte busway.

Dan gue pun naik busway. Ke arah Kota. Gue berpikir, dari Kota tinggal naik kereta, langsung nyampe depan rumah.

But it was Jakarta in the afternoon. I forgot that people go home from work during this time of the day.

Untung, om gue ngingetin. Gue ditelpon, disuruh naik ke arah Kampung Rambutan, trus naik angkot ke arah Depok dari situ. Ya udah deh, so I did what he said, went to Kampung Rambutan, and looked for angkot 112 Depok–Kp Rambutan.

Dan gue pun bablas sampai Margonda.

Menyerah, gue turun, nyebrang jalan, dan naik Blue Bird sampai rumah.

To be continued…

2 Komentar leave one →
  1. 27 Januari, 2010 8.23

    renyaahh bangett critanyaa..

  2. 14 Oktober, 2012 17.34

    sambil baca, sambil ngebayangin , jadi seperti ikutan …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: