Skip to content

Aku Tak Tahu Di Mana Letak Celanaku

26 Desember, 2008

Jam sebelas malam dan aku sampai rumah. Sebelumnya aku dari Cigadung, abis konvoi bareng B2W trus nemenin Citrya dan Vira pulang ke rumah Citrya.

Hm ya ya.

Lalu aku tiba-tiba terserang di to the lema. Bukan di to the vidi. Aku tak tahu, aku bingung. Aku tak tempe, tapi aku bukan juga lampu. Aku lebih suka menjadi lilin yang menyala terang sendiri di tengah lautan samudera air asin yang tidak dapat menyala karena tidak dapat terbakar oleh api.

Dunia ini sungguh aneh, begitu pula diriku malam ini.

Apakah yang sebenarnya harus saya lakukan? Ke mana hidupku bertujuan? Aku tak punya sepasang celana bergaris, apa kata dunia? Dunia tidak pernah kepadaku peduli. Dunia hanya berputar seperti planet. Yah, begitulah adanya. Celana memang harus bolong, tapi tidak harus bergaris.

Aku mengetik dan terus mengetik.

Aku tidak tahu. Aku labil. Aku instabil. Aku pedofil eh bukan deng ga jadi itu mah.

Maryamah Karpovku ditinggal di Ruang OSIS. Terima kasih Ijah.

Tapi aku masih tidak tenang. Aku tidak tahu takdirku.

Sahabat, bantulah aku mencari jati diriku.

Aku butuh makanan.

Crispy roll enak. Banget.

Iklan

ThursdayPeople.com? GHAUL BHUANGEUTS.

24 Desember, 2008

Nggak Susah Jadi Hijau

16 Desember, 2008

Asalnya sih cuma komen di blognya Iyo, tapi ternyata komennya hampir sepanjang postnya.

Anyway, here it goes.

haha, tambahan dari gue adalah, kumpulin sampah kertas, koran-koran bekas, dan lain-lain, lalu jual ke tukang loak.

tempat sampah sekolah, jarang banget yang pemisahannya dilaksanakan sampai ke tempat pengumpulan sampah sekolah tersebut. di dalam, biar keren aja ada tulisan organik-anorganik, tapi akhirnya dikumpulkan dalam satu tempat yang sama, sama aja boong.

jasa-jasa pemulung juga patut kita hargai. mereka mengumpulkan sampah plastik lalu disatukan. kantong plastik memang pada umumnya tidak dapat didaur ulang, tapi botol AQUA yang terbuat dari PET bisa. coba ambil satu dan lihat bawahnya, ada logo daur ulang. lalu, walaupun ini sotoy sih, tapi logikanya kan sampah-sampah plastik itu dijual/dikirim ke depot pendauran ulang yang entah di mana, jarang dipublikasikan.

iklan aja sih, tapi menurut gue, retailer yang paling ramah lingkungan sepanjang ini adalah Super Indo. Yogya masih setengah hati, apa lagi hypermart. haha, iklan. oh ya, ada lagi masalah dengan kantong reusable yang banyak dijual. memang, yang keren-keren itu pake kain atau kanvas, tapi banyak juga yang berbahan polyester. plastik-plastik juga tuh, tapi seenggaknya emang sih, bisa dipake berkali-kali jadi dampak ke buminya makin sedikit. buat minimarket, gue mengacungkan jempol pada CK yang by default nggak ngasih kantong plastik. kalau Anda belanja di Waroong yang cuma menyediakan kantong kertas juga, kalau Anda tidak berniat memakai lagi kantong mereka yang sangat lucu itu, sebaiknya Anda tolak saja, karena pohon yang digunakan untuk membuat kantong kertas itu bisa diselamatkan. lalu gue sangat menyesali keputusan McDonald’s Indonesia yang sejak entah kapan mulai menggunakan kantong plastik, padahal setau gue, sepanjang sejarah McD di seluruh dunia, mereka selalu pakai kantong kertas yang dibuat dari kertas daur ulang.

bagi yang berkendaraan solar, cari SPBU yang menyediakan biosolar. asapnya tetap hitam, tapi asapnya berasal dari tumbuhan, dan bukan dari cadangan bahan bakar fosil yang aslinya udah dikunci dalam perut bumi selama berjuta-juta tahun. artinya, hutan-hutan dunia tidak akan bermasalah mendaur ulang karbon yang diemisikan, karena karbon tersebut memang berasal dari tanaman.

tapi tetap saja, cara paling umum dan dikampanyekan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. asap yang dikeluarkan tetap menjadi beban bagi hutan dunia, dan bagi Bumi.

lalu, yang paling mudah: gunakan kedua sisi selembar kertas. kalau perlu fotokopi, sebisa mungkin bolak-balik. kalau tidak bolak-balik, saat fotokopian udah selesai dipake, sisi kosongnya dipake buat yang lain.

untuk dekorasi kegiatan, ganti styrofoam dengan triplek. cari aerosol ramah lingkungan, atau gunakan cat bibit saja.

nggak susah kok untuk memulai dari diri kita sendiri. kalau memang kita masih butuh kendaraan pribadi untuk mobilitas tinggi, coba datang ke WALHI atau Greenpeace dan kalkulasikan penggunaan karbon Anda. lalu, teman-teman kita di sana akan dengan senang hati membantu Anda menjadi carbon-neutral — setiap ton karbon yang Anda emisikan ditutupi dengan pembelian pohon atau pendanaan aktivisme lingkungan yang menuju pada perbaikan sistem pendauran ulang karbon alami Bumi.

dan tentunya, membuat tulisan seperti Iyo dapat membantu.

Let’s go bike!

Kekerasan, Media, Guru, dan Displin Siswa

11 Desember, 2008

Oke, baru-baru ini, kemaren malahan, diberitain di tv besar-besaran, ada seorang guru di sebuah provinsi di sebuah Indonesia yang menampar siswanya.

Video adegan tersebut direkam oleh teman siswa-siswa itu, lalu ditayangkan secara eksplisit di tv.

Plak plak plak.

Oke, menampar tanpa alasan yang jelas dan dengan muka garang cuma untuk nafsu atau sok keren, that sucks. Nggak banget. Tapi bukan berarti guru kita ini adalah preman jalanan yang cuma pengen malak anak orang.

Kalau kita lihat keterangan beliau, katanya anak-anaknya pada nggak sopan a.k.a. nggak beretika, atau kita sebut saja ‘nggak berdisiplin’ se-vague apapun kata ‘disiplin’ itu, saya rasa Pembaca ngerti lah intinya apa.

Sang guru bermaksud baik, dan setidaknya menurut beliau, beliau sudah memberi peringatan-peringatan terlebih dahulu, baru pada klimaksnya para perpetrator dibariskan dan ditampar, satu demi satu, satu kali, di pipi.

Dan yang bisa kita lihat di video itu, yang ditampar itu cowok-cowok.

Not too harsh, I’d say. Tapi oke, kalau menurut standar orang-orang, menampar secara fundamental bukan sesuatu yang bagus.

Tapi dalam kasus ini, ada sebuah kesalahan yang diperbuat, diulang, lalu akhirnya baru dihukum.

Siswa yang kena hukuman mengerti konsekuensi yang akan mereka terima, dan mereka sepakat. Tentunya kalau tidak terjadi kesepakatan sebelumnya, siswa akan membangkang, betul?

Atas dasar itulah, saya menyesali keputusan bahwa sang guru, saya lupa namanya, harus dicabut dari pekerjaanya sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Saya memang tidak kenal dia, saya memang tidak tahu secara personal dan langsung mengenai kualitasnya sebagai seorang guru, tapi sebagai seorang manusia yang berakal, saya menyesali hal itu.

Lalu kita lihat sudut pandang lainnya. Para siswa. Setidaknya satu orang diwawancara oleh wartawan dalam liputan berita tersebut.

“Apa kamu ditampar juga?”
“Iya.”
“Tapi kamu ikut ribut?”

Beberapa detik keheningan, jelas terlihat raut wajah resah di muka siswa tersebut, lalu akhirnya ia menjawab,

“Tidak.”

Mungkin kalau kita percaya pada pernyataan guru di pemberitaan, seharusnya kita percaya juga pada si siswa.

Tapi saya pribadi lebih meragukan jawaban sang siswa. Kenapa? Pertama, jawabannya ragu dulu. Keduanya, di video jelas terlihat kepasrahan dan kerelaan masing-masing ‘korban’ untuk ditampar.

Kalau sudah terjadi kesepakatan, dan penamparan bertujuan baik, memang itulah yang seharusnya terjadi.

Jadi, tidak ada masalah, sebenarnya.

Hanya ada media yang ingin bahan berita, yang mungkin tidak selalu buruk. Hanya akibatnya menjadi fatal karena memperbesar masalah kecil, bagi sang guru, bagi sekolah itu, bagi dinas pendidikan setempat, malahan sampai ke DPRD.

Mungkin menampar bukan solusi terbaik, tapi menurut saya itu masih solusi yang wajar, dengan tujuan yang jelas, dan tanpa output yang terlampau jelek seperti geger otak atau meninggal dunia.

Apabila orang tua siswa menganggap hal tersebut sebagai masalah, saya rasa untuk kasus ini, perbincangan damai antara kedua belah pihak sudah cukup. Kalau orang tua siswa tidak merasakan hal ini sebagai masalah, atau mungkin anaknya memang nakal, maka tidak apa-apa. Tidak ada yang geger, tidak ada yang meninggal.

Namun dengan pemberitaan media massa, seolah-olah hal sesepele ini menjadi masalah dua ratus juta orang rakyat Indonesia. Lalu kepala sekolah pun pasti akan mengatakan bahwa ia menyesal. Lalu para legislator di DPRD akan merasakan gairah untuk berpartisipasi dan memanggil sang guru untuk dibahas bersama-sama. Lalu siswa yang diwawancara, bagaimanapun juga, akan menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahwa menampar itu mutlak salah, karena memang itulah tema dari berita tersebut.

Lalu masalah tersebut klasifikasinya menjadi masalah besar karena sudah masuk TV. Dan karena masalah tersebut besar, maka hukumannya besar, dan sang guru dipecat.

Dan media akan memberitakannya lagi, kali ini sebagai berita yang positif, bahwa sang guru sudah dipecat.

Dan semua berita itu akan menjadi buah bibir masyarakat seputar dunia pendidikan Indonesia yang akan dianggap masih kental akan kekerasan yang tidak beresensi.

Seharusnya tidak usah seperti itu.

Seharusnya, menurut saya, pak guru tetap saja jadi guru.

Seharusnya, tidak ada berita apapun tentang pak guru dan caranya mendidik yang mungkin kontroversial.

Menurut saya sih begitu. Just a thought.

Api

2 Desember, 2008

Ada banyak orang yang berpikir besar. Yang bercita-cita dapat berbuat sesuatu, yang besar.

Mereka berencana untuk menyalakan ‘api’ orang-orang lain. Nggak cuman satu, tapi harus banyak. Banyak orang harus punya api. Api itu harus mereka sebarkan. Api itu harus mereka kobarkan! Api itu penting, api adalah segalanya.

Lalu lautan api itu mereka harap bisa menyebarkan api itu, hingga semua orang di negeri ini, di dunia ini, punya api itu.

Karena api adalah segalanya.

Karena api dapat memecahkan masalah, kata mereka.

Tapi lama kelamaan, yang gue rasain, orang-orang mulai terpesona akan api itu. Mereka mulai memuja api, mengagungkannya. Karena api adalah segalanya. Setiap orang harus punya api.

Dan mereka terus memujanya. Karena api adalah segalanya.

Karena api adalah segalanya.

Gue takut saat mereka cuma berhenti dan memuja api.

Gue takut mereka cuma bermimpi besar, berpikir besar, bercita-cita besar, dan diam di tempat, sikap hormat pada api.

Gue takut pada api. Gue mau alergi api. Karena api bukan segalanya.

Dan bumi makin kepanasan.

Gigi naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu Nakal.

Dan kalimat terakhir nggak penting.

Terlalu Mendung

5 November, 2008

bandung hujan bandung berawan

awan mendung awan putih

putih putih putih

biru kalah oleh putih

cahaya menembus putih

translusen atau apapunlah, tapi hanya putih

putih dan terlalu putih

bukan putih surf, tapi putih awan

aku bosan dengan putih, aku rindu biru

langit biru cerah bermatahari

tapi putih mengambilnya

awan mencuri matahari

kembalikan matahariku, awan!

Debate Freaks

2 November, 2008

Okay, so I had two debate competitions in eight days. Tough days, but it didn’t turn out so bad.

The first one was PEDC. I was in SMAN 3 Bandung A, with Citra and Hugo. We started quite roughly, losing twice in a row. After the third one, we were rather pessimistic regarding the results, which were to be announced the next day. Turned out that we won, but then we lost again at the fourth round. After that, I did some mathematical calculations with formulae I made up on my own, and concluded that we would have no chance of breaking into the octofinals. So, at the last preliminary round, we decided to end our ‘career’ sweetly, with a rather passionate and ‘clean’ debate, so to speak.

Then it turned out that my calculations were entirely wrong. I won’t explain technically how, but the story is, we had a cocktail party of sorts to determine which teams broke and which teams didn’t.

Crazy Smukie guys.

Everybody was given a cup that contained a drink that was specifically set for each team. The teams who did not broke would have better-tasting drinks, so to speak.

First one, I had to drink tea. But it wasn’t sweet nor bitter, but very SALTY. You should try that out sometime, it’s easy to make. Make tea and add salt, and you shall feel the pain that I did.

So that meant that I still have a chance, but I still stuck to my calculations and thought to myself, I have no chance of breaking. I went on to try the second drink, which wasn’t so bad. Coca-Cola with soy sauce! Seriously, it’s not too bad at all, but I think plain Coca-Cola, with or without sugar, would taste better.

So I passed the second level. And the way I’m describing it, it’s starting to sound like Mario.

The third cup clearly contained chocolate milk. And in fact it did. Nothing special about it, doesn’t taste bad, so I figured I had lost my chance at breaking. I walked towards my seat, but… it turns out everybody got the same thing. Milk, which wasn’t actually sweet.

Then Chris announced several teams who broke into the octofinals. My team’s name was not on the list. Of course, I thought back then, so I went on to my seat.

Turns out that he only announced ten teams, out of the sixteen that would break into the octofinals.

The last ‘cocktail’ was aggravating. It looked fanta, blood red and all, but I was curious, so I smelt it.

It smelt familiar, ladies and gentlemen.

There I had it, a cup of FANTA mixed with CHILI SAUCE.

INDOFOOD chili sauce, to be precise. If I’m not mistaken, yeah.

Can you imagine that? If you can’t, you should try it. SWEET AND SPICY!

That totally gave me the stomachache of a lifetime, kinda, and shocked me since it would mean that I did break into the octofinals.

And in fact I did!

So yeah, the breaking rounds went so-so. Oh yeah, in the octofinals, the two SMAN 3 teams went head-to-head as cannibals, but at the end my team won, fortunately. I have my revenge on Marini for her beating me several times before, at AEDC and ALSA 2008.

So then we went against SMAN 2 Cirebon at the quarters and won again, then for the semis we faced Canisius College.

Canisius is the one institution I have never managed to beat ever since I started debating. The main reason was probably because of a guy called Bobi Andika. If you’re reading this, Bobi, show your gratitude.

I never expected to be a finalist, but after a painstaking fight to find pieces of paper stuck under chairs and people’s shoes,

my team was a finalist.

Well, this surpassed our expectations, especially since we only had two victory points for the preliminaries.

At the finals, we lost.

SMAN 5 Bandung took first and third place. That’s 3 million rupiah for them.

My team took second.

Canisius’ Febrian was the best speaker.

And that was PEDC. A very fun debating competition that has been proven to be essential for building the basics of any newbie.

The second competition was LEDC, held by the LIA English Debating Society.

Well, we did not win anything, only managed to get into the semifinals.

So-so, although there were some minor achievements, but not much. I didn’t have much shock or excitement as I did at PEDC anyway.

Lots of competitions still await.

I rest my case.

(haha ternyata pake bahasa inggris jadinya GARING mek! tapi biarlah yang penting udah nulis panjang.)