Kelinci Putih

2,3-dimethylbutane

10 Mei, 2008 · 2 Comments

Kenapa gue menuliskan sebuah senyawa hidrokarbon sebagai judul tulisan ini? Because I feel like it.

Why did I even write down this post in the first place? Because I feel like it.

No more, no less.

Just in the mood for… writing. Or am I?

Anggep aja iya deh. Udah lama nggak ngepost. Terakhir tuh… buset! Hampir sebulan!

Ya sudah. Mari menulis. Mari membaca. Mari mengendus-enduskan idung bersama-sama!

GOYANGGZZZ!

HMM. Naondeui. Aura membahana menggelora menahan sejuta minat daya ikat tarik-menarik lompat melompat mengumpat sejuta kata bara api panas uh-ah-uh karatan minyak rem blog jedus-jedus kehilangan kata-kata yang beresensi!

Well, karena nggak ada topik khusus malam ini, maka empat huruf aja deh yang dijadiin topik: LIFE. Bukan huruf-hurufnya, tapi katanya. Disebut huruf-huruf biar dramatic aja. Haha dramatic. Drakula makan tic-tac.

Ya.

Well, a lot of things has happened since the sixteenth of April.

First of all was ALSA ECOMP 2008. Fun, fun, fun! Indeed my team did not get any particular awardable… uhh… awards, but SMAN 3 Bandung B did manage to stay in the number one spot during the preliminaries for two rounds. Or was it one?

Well, we did beat WSDC A and B, with a margin of 1 and 0.5, respectively. They were great debaters, and a great experience it was debating against them. Their structure and manner was golden. At least IMO.

Then at the quarterfinals, both teams from SMAN 3 Bandung fought against each other. Yes, that includes me. And my team lost because of a silly definitional challenge. But it was a split decision.

Enough of that hubbub. During the one week of ALSA fun, me and Aria managed to get out and get lost in Jakarta.

In particular, we ndesoistically (HAHAHAHA) found that Jakarta shopping centres have a tendency to be huge. Somewhat overly huge to our liking, for that matter.

But we were kampungmen visiting Jakarta. Mind us not. Oh, yes, kampungmen riding BLUE BIRD taxis FROM DEPOK TO PIM and the other way around. And kampungmen joyfully eating BURGER KING.

Well, regardless of what species of kampungmen we are, we managed to visit three shopping centres (aka MALLS): plaza indonesia eX, grand indonesia, and pondok indah mall.

Oh ya. We took the busway! FOR THE FIRST TIME IN OUR LIVES! YEEHAA!

Uhm, yeah. So the first visit to Plaza Indonesia was merely for the sake of getting to Grand Indonesia without having to take the footpath (which, in my opinion, was good enough. At least compared to Bandung. Doesn’t match to ones I’ve walked on before :D ). Besides, neither of us have been to eX before. How ndesoistic. So we walked in… and walked out.

Crossed the road.

Behold! Grand Indonesia!

The last time I visited this place was at Pesta Blogger 2007. And this time, I got lost, somewhat literally, and could not manage to find Kinokuniya.

Ah, wtf.

Then we took the busway, again, in the hopes of minimising taxi fees of going back to Depok, to the hotel, uh, wisma, where we stayed - the Wisma Makara. But we ended up at Ragunan, at 8pm, finding no blue taxis (the reason behind only wanting blue taxis is, i admit, plain stupid.)

And that was the end of that day.

On another occasion, we hopped on another blue taxi and spent close to 50k (or more) rupiahs to get to PIM. We got inside, and found ourselves lost. PIM 2 or PIM 1, we know nothing of either one.

At the end we found J.Co and bought some coffee, in hopes of accessing the hotspot, which we failed to do because of battery failures.

Then I met the Nisrina Fakhriati. Haha at last gue kopdaran ama tu anak.

Gue menggaring dan Aria memanfaatkan kegaringan yang bikin gue terlihat tolol tersebut untuk terlihat pintar. Biasa, tebar pesona.

Aria lho, bukan gue. Gue mah emang garing. *dengan penuh kesadaran bahwa somebody in particular will be reading this post*

Then we bought Whoppers, again, and took one home for our teammate Afifa.

Yeah.

After ALSA, I returned to Bandung only to find that I missed a lot of 3butes practices and other sorts of responsibilities. And that the next week would be LKO.

Maka gue ikutan LKO deh. Dua kali pelanggaran, sementara tiga kali dapet hukuman berupa pencoretan.

Dan akhirnya lulus! Dengan penuh perjuangan bersama, calon-calon pengurus OSIS LVI akhirnya terbentuk. Setelah LKS, OMT, dan sekarang LKO. Fiuh.

(giliran ALSA panjang, LKO bentar doang)

LKO selesai, kembali ke 3butes yang keteteran lagi.

Oh, lalu muncul PKS. Pekan Kreativitas Siswa. Panitianya anak-anak LKS. Berarti termasuk gue.

Right.

Oh, di PKS T’sT bakal maen. Setelah gue memilih untuk vakum, akhirnya gue mau bertst lagi. Mixing deh, bareng Khansa, albeit gue akuin, gue kerjanya cuma dikit.

Lalu ada Boyband. Ya, gue ikutan boyband. Maen di PKS juga. Hihihi. Tunggu aja kabarnya.

Dan minggu depan adalah REUNI AKBAR. Jadi harus aktif lagi di kegiatan peralumnian.

Tadi baru pulang dari kumpul-kumpul panitia. Ternyata Fira, salah satu dari segelintir orang yang datang waktu buka bareng kumpul perdana rencana reuni akbar, adalah kakaknya Malika. Who knew.

Jengjeng. Such a small world.

Yayaya ngobrol ngobrol.

On a sidenote, gue mulai bangkit dalam hal PELAJARAN! Oke, gue tetep remed ini-itu, tapi tugas-tugas mulai gue kerjain. Terutama SENI RUPA! Akhirnya gue kerjain!

Tapi masih bermasalah dengan bahasa sunda. Ugh. Tapi gue harus bisa!

HARUS NAIK KELAS!

Yah, untuk mengakhiri post ini, gue persembahkan delapan huruf sakti.

NAONDEUI.

→ 2 CommentsCategories: Kehampaan

Moodiness

16 April, 2008 · 5 Comments

mood 1 |moōd|
noun
a temporary state of mind or feeling : he appeared to be in a very good mood about something.
• an angry, irritable, or sullen state of mind : he was obviously in a mood.
• the atmosphere or pervading tone of something, esp. a work of art : Monet’s “Mornings on the Seine” series, with their hushed and delicate mood.

Mood adalah sesuatu yang aneh. Impuls mendadak yang mengubah cara pandang kita terhadap segala sesuatu.

I, for one, consider myself to be a moody person. Gampang gonta-ganti mood gitu.

Kadang-kadang tiap kali gue ganti mood, seluruh sikap gue berubah. Like a totally different person.

Dan sepertinya beberapa orang di sekitar gue pun sama.

Jadi bingung. Sama diri gue juga, kadang-kadang.

Nah, pertanyaan gue adalah, how does a moody person change another person’s mood?

→ 5 CommentsCategories: Tanya
yang berkaitan: ,

Poconga Virginius

12 April, 2008 · 8 Comments

Kemaren dua hari yang lalu gue baru nonton Tali Pocong Perawan bareng pacar di CiWalk XXI.

Storyline? Biasa. Nggak terlalu spesial.

Tapi film ini bukan sekedar film pocong. Ada unsur-unsur ‘hot’. Dewi Perssik and so on and so forth.

Pocongnya sendiri? Well, I like this part.

Film ini inovatif banget dalam dunia perpocongan.

Spoiler alert!

Keep reading →

→ 8 CommentsCategories: Kehampaan

Segelas Susu Hangat

4 April, 2008 · 7 Comments

Pulang ke rumah. Duduk di meja makan.

Minum segelas susu hangat.

Melepas semua penat.

Hilang. Lepas. Santai.

Enak banget ya kayaknya?

Well, it’s something that I’ve been doing for the last few days… something which I actually shouldn’t have been doing.

I have tons of things to do, at the back of my mind.

A, B, C, D, E, semuanya bentrok.

Lalu badebum jeledarr. Semuanya meledak kusut ruwet syalalala.

‘Setengah hati’ ke semua ‘komitmen’ gue itu.

Some things, I can finish off little by little.

But other things? I have to choose one from at least three, all-important activities. Or I can go to one and hop off to another, each getting a portion of my available time as a sane normal human being.

Most of the time, things get as easy as me getting nothing quite done at the end of the day.

Behind me, I’m sure people are starting to hate me because of this quasi-idiotic habit of mine. It’s a consequence I have to take.

But sometimes, things get much more bizarre. I choose one thing, go to a place and do that, but get nothing done. Then I hop off somewhere else to do something else but find that everybody has gone somewhere else to do their own things, having done the thing I was going to do before I came.

When that happens, all that’s left is a disintegrated knot. Nggak ada lagi simpul yang nggak bisa dilurusin, tapi tali-tali yang terhubung oleh enigma tali dalam simpul itu putus semua.

Simply put, all that translates into one word: failure, disertai batuk flu yang muncul tiba-tiba dan makin parah aja.

I also know that a certain someone very important to me might understand me and all this yadda-yadda, but then again, she’s still a part of my ever-abstract priority list.

Pffft. Priorities, priorities, priorities.

→ 7 CommentsCategories: Kehampaan

Mengamen, bukan Pengamen

22 Maret, 2008 · 8 Comments

Hari ini ada acara APLIKASI gitu, buat lulusan, panitia, dan pemateri LKS LV.

Acara = duit = danus = NGAMEN!

Sadly, I don’t have the photos yet, but I’ll post them later on.

Kemaren seharusnya semua dateng pagi-pagi, tapi gue latian debate dulu di ITB, jadi baru abis Jumatan. Ah, cut the crap. Perjalanan dimulai dari lokasi acara, di bilangan (idih kayak artikel) Jalan Lombok. Dari sono jalan ke lampu merah di deket KFC Riau.

Nyanyi Cintaku. Gue main djimbe.

Dapet duit sih dapet, tapi nggak terlalu banyak. Nggak asik ah. Pindah deh, ke sebuah tempat makan yang gue lupa namanya, juga di Riau.

Dapet lagi, tapi belum banyak.

Pindah lagi, ke deket Heritage.

Dapet lagi, tapi masih belum banyak!

Ya udah, jalanlah kita ke arah Gedung Sate. Ke Cisangkuy, tepatnya.

Bagi dua dulu, biar lebih asoy. Satu kelompok ke Dago, sisanya di Cisangkuy.

Syalalala. Jalan lagi…

Nyampe Gasibu, ada SYUTING SINETRONZ. Kenapa gue tau itu SINETRONZ dan bukan film?

Karena peralatannya butut dan pengambilan gambarnya dari jarak dekat naujubile nggak jelas.

Ya… butut-butut juga daripada gue, nggak punya bo.

Yugz.

Nah, karena acara SYUTINGZ pake ngeblokir jalan di depan Gedung Sate, jadi kita bebas berfoto ria di jalan yang kosong.

Yang foto gue. Pake DSLR orang tentunya.

Argh. Pengen mambo.

Lanjut jalan… menuju Pasupati… turun dikit… yak, depan Kimia Farma Dago.

Dan rizki pun turun. Literally, soalnya ada yang namanya Rizqi. NAONDEUI.

Ngamen di Dago ternyata jauh lebih asoy geboy. Ya iya lah.

Lampu merah! Saatnya beraksi. Lagunya sama, Cintaku.

Kita beraksi di mobil Panther silver. Kaca dibuka! Duitkah?

“Dek, tadi udah, di Heritage.”

Oh, ternyata si bapak udah ngasih duit pas di Heritage! Kenapa nggak ngasih lagi aja, Pak?

Selanjutnya, lancar-lancar aja.

Kita dibagi dua lagi, ada yang di sebelah kanan jalan (cewek-cewek), dan sebelah kiri (cowok-cowok).

Gue awalnya ikutan yang cewek dulu, secara gue alatnya beda sendiri, djimbe gitu lohz.

Lampu merah lagi. Mobil pertama di paling depan nggak ngasih duit… yaaah…

Ya udah, pindah ke belakangnya. Seribu!

Ke belakangnya lagi. Belum mulai nyanyi, tapi langsung ngasih seribu!

Belakangnya lagi, belum nyanyi juga, seribu!

Belakangnya lagi, kita nyanyi dulu bentar. LIMA RIBU!

YEAAAH! GIRANG-GIRANG NORAK.

naondeui.

Lalu gue pindah ke kubu cowok.

Ngamen aja biasa, kali ini ke sebuah Aerio plat merah B.

Jendela dibuka…

LEMBARAN BIRU BO! Alias LIMA PULUH RIBU!

Yeah~

Total, kemaren dapet 350 ribu lebih.

Dan kaki lumayan pegel gara-gara ke mana-mana jalan kaki doang.

Pertama kali ngamen, asik juga.

Buat om-om dan tante-tante yang nggak ngasih duit, kita nggak ngelem kok.

Kecuali lem di styrofoam buat dekor.

idih garingnyoo.

→ 8 CommentsCategories: Jalan-jalan

The Definition of a Problem

20 Maret, 2008 · 3 Comments

Masalah, masalah, masalah.

Kata itu sering melayang-layang di benak orang-orang di sekitar gue belakangan ini.

Tapi apa itu masalah?

Apakah masalah itu situasi dan kondisi yang membuat kita merasa terpojok?

Atau hanya kita saja yang membuat diri kita sendiri terpojok dalam sebuah situasi?

Apakah ‘berlari’ dari masalah hanya dapat melepaskan kita sejenak dari masalah, lalu masalah itu akan kembali,

atau dapatkah masalah hilang karena kita menghilangkan persepsi bahwa masalah itu ada?

→ 3 CommentsCategories: Derau

Chapter Eight

14 Maret, 2008 · 7 Comments

One chapter ends, and a new one begins.

To put it in a simple way, .

→ 7 CommentsCategories: Kehampaan

Roti Bakar

9 Maret, 2008 · 5 Comments

Saat seseorang bergabung dalam sebuah organisasi, maka seharusnya sih, tuh orang berkomitmen sebagai anggota organisasi tersebut.

Hal tersebut tetap berlaku saat seseorang tergabung dalam beberapa organisasi sekaligus.

Lalu tiba-tiba suatu hari, orang itu kayak disuruh milih antara pacar dan selingkuhan.

Buset, perumpamaannya jelek banget.

Jadi, orang itu bentrok semua acaranya. Organisasi A ada acara ini, B ada itu, C ada itu, D ada itu.

Bayangin, banyak banget gitu yang bentrok.

Nah, hal tersebut sering banget, banget, banget gue alami.

Kalo gue lagi kosong, gue kosong banget.

Kalo gue lagi sibuk, bentrok semua.

Dan saat-saat itu, gue terpaksa harus milih. Harus ada yang dikorbanin.

Gue pernah diajarin soal manajemen waktu. Bahwa kita harus pinter ngebagi-bagi komitmen.

But here’s the painful truth: it’s not that easy.

Sebatas bikin skala prioritas, jadwal pribadi, agenda harian, itu gampang. Cuma pikiran dan tulisan doang.

Misalnya elu ikut lima organisasi: A, B, C, D, dan E.

Lu akalin, lu bagi waktu lo, 20% buat A, 20% buat B, 20% buat C, 20% buat D, dan 20% buat E.

Sampe situ, masih gampang.

Tapi lu liat lagi. Ada temen lu yang cuma ikut A. 100% waktunya dia kasih buat A.

Nah, itu konsekuensi dari berbagi komitmen: lu mengorbankan 80% dari waktu lo buat masing-masing dari lima organisasi itu.

Lu bisa pikir, orang-orang bakal pengertian sama elu, karena elu sibuk ini-itu.

Oke lah, mereka bakal ngerti elu.

Mereka bakal ngerti: elu tuh orangnya sibuk banget, dan sering banget bentrok acaranya.

Akhirnya, bisa aja, lu nggak dianggep reliable lagi. Bisa aja, lu ilang kepercayaan.

Atau skill lo ilang, dikit demi dikit.

Bisa aja.

Tapi, jangan pesimis dulu. Itu perumpamaannya kasar banget.

Gue punya mimpi: menjadi yang terbaik di semua hal yang gue lakuin.

Apakah itu webdesign, programming, debating, musik, teater, jurnalistik, atau apapun itu.

Susah kan?

Nah, belum lagi kewajiban kita yang lain: sebagai umat beragama, sebagai pacar (misalnya), sebagai anggota geng anu, blablabla.

Ujung-ujungnya kita harus lebih tegas dalam menentukan pilihan.

Kalo nggak, bisa aja kita jadi nggak bener di semua hal yang kita lakuin.

The only thing to regret is regretting the choices made in life.

Percuma nyesel apa-apa. Berkorban adalah konsekuensi dari pilihan kita, jadi jadikanlah pengorbanan itu worth-it.

Gue sendiri sih masih ngerasa, gue sendiri belum ngelakuin apa yang gue bilang di atas.

Nah, kalo lo orangnya beruntung dan nggak punya setumpuk acara yang bentrok semua dalam satu periode waktu, lo nggak perlu mengorbankan sekian banyak acara demi acara lain. Tapi kalo lo orangnya kayak gue, mungkin suatu saat lu bakal dihadapi situasi kayak gini.

Tapi gue cuma mau berbagi. Might be useful.

Jangan takut berkorban, karena kalo lu takut, percuma lo berkorban.

EDAN BANYAK QUOTES BARU HAHAHA.

NAONDEUI.

Lalu ada apa dengan roti bakar?

Roti bakar cuma makanan yang paling sering Venny beli di kantin kalo lagi istirahat…

→ 5 CommentsCategories: Derau

Socially Late

15 Februari, 2008 · 2 Comments

Tadi malem, pengumuman dadakan. Buku Siswa LKS kudu dikumpulin ke Tatib sebelum bel masuk.

Maka gue yang tukang ngaret bela-belain dateng ke sekolah jam enam. Dan gue berhasil! Edan!

Langsung gue kebutin tuh tugas-tugasnya. Setengah jam jadi. Tapi nggak semua orang seberuntung gue. Ada yang datengnya rada telat, blum ngerjain tugas pula. Tapi kita semua ngebantuin dulu dong. Bela-belain dateng telat ke kelas.

Jam 7.15 urusan LKS baru selesai. Dateng ke kelas, berempat bareng Eddo, Aul, sama Aconk.

Nggak boleh masuk. Cihui.

Ah, Geografi gini. Belajar dari luar bisa.

Sebelumnya, gue juga pernah telat di pelajaran sosial trus nggak dibolehin masuk juga. Sosiologi. Juga bareng Aul.

Uhui.

→ 2 CommentsCategories: SMAN 3 Bandung

LKS LV: Hari Kedelapan

13 Februari, 2008 · 2 Comments

“Kelompok satu:
Venny Sartika,
Tubagus Andhika Nugraha…”

Lalu seangkatan langsung pada “adeeeuuhh.”

Panitia, pasti kalian sengaja nih! Haha!

Gue sih nggak masalah. Asik malahan.

Tapi di sekolah dia muluk mulu. “Kenapa gue harus sekelompok ama ni orang?” (sambil nunjuk gue). Satu orang pasti kebagian dua kali kalimat itu.

Trus dia bilang dia pusing. Minta bantuan manggil anggota kelompok, secara dia ketuanya gitu loh.

Trus duduk, sok-sokan nelpon seolah-olah orang depresi yang kabur dari rumah, bareng Arniz.

Gue yang duduk di sebelah cuma bisa terdiam.

Burung gila. :P

Satu kata tentang LKS: CAPEEEEEK!

→ 2 CommentsCategories: SMAN 3 Bandung