Skip to content

Rethought

15 Juni, 2009

It has been some three years I’ve blogged at kelinciputih.wordpress.com, but longer than recently, I’ve been lacking that urge to write long posts.

This blog has been a witness to how I have been for the past three years. How I’ve changed, how I’ve thought about this world, how I’ve been such an ababil for a part of my life. Yes, it has been, but I’m calling for a change. A move.

I’ll make a new home when I find a name for it, but for now, feel free to hop onto roompoot, my tumblelog.

ALSA 09, Part 2

26 April, 2009

The debates of ALSA actually start on the second day, which is a Friday. Because it is a Friday, the debates are held after the Friday prayers.

Maka kami berenam (gue, Ivan, Rany, Citra, Juan, Marini) bangun sekebo-kebonya. Nggak juga sih. Rata-rata ujung-ujungnya jam 5. Abis itu kita bahas motion, bahas konsep-konsep filosofis, essences of jail, essences of democracy, dan lain-lain. Pokoknya ngebahas banyak hal yang berbau abstrak. Matter juga dibahas sih, dikit, tapi paling seputar mosi-mosi ekonomi (beuh, diterjemahin).

Dan kita baru sarapan jam 10an gitu ya. Brunch kali ya, bukan sarapan. Laper aja pokoknya. Makan deh.

Cabut ke FHUI dianter supirnya omnya Juan. Sampai di FH, cuap-cuap cipika-cipiki sama dedengkot debaters lainnya. Dari Jogja lah, dari Aceh lah, dari CC, dari mana-mana. Sayangnya, nggak ada yang mau bayarin makan di Hanamasa. Sayang, sejuta sayang. Mungkin lain kali ada yang bersedia menraktir gue di sana. Ya, aku tidak boleh putus harapan. (HMMM)

Setelah Jumatan di mesjid (ya iya lah), matchup round 1 diumumin. SMAN 3 Bandung A lawan SMAN 4 Denpasar B, dan SMAN 3 Bandung B lawan Dwi Warna B. Funny, soalnya taun kemaren 3B juga ketemu sama DW di round 1.

Singkat kata, dua-duanya menang. Lawan Foursma split decision, sedangkan 3B dapet single adju.

Setelah debate high school, sebenernya ada debate varsities, tapi males juga nontonnya. Jadilah kita cabut ke PIM, mau nuker voucher Paperclip yang dapet dari NEO. Gila, binder maruman yang gue pake sekarang, dapet gratis dari NEO, kalo beli baru ternyata harganya seratus ribu. Kertasnya aja, 50 ribuan buat 100 lembar. Untung dapet voucher, jadi gue abisin deh buat beli kertas maruman yang mahal.

Tapi serius deh, it’s worth it. Warna kertasnya putih rusak (broken white), jadi nggak silau kalo kita pake nulis di bawah lampu atau matahari. Permukaan kertasnya juga lebih smooth gimanaaaa gitu, jadi jauh lebih enak buat nulis juga. Dan kalo lebih enak buat nulis, lebih enak buat bikin kasus. Seriously. Promosi deh gue.

Akhirnya kita keluar dari Paperclip, menenteng belanjaan seharga 240 ribu dengan membayar cuma 1500 rupiah. Neat.

Waktu mau keluar PIM, Juan ditelpon omnya. Jangan-jangan kita masuk tv. Atau jangan-jangan omnya Juan juga setuju kalo gue mirip Vidi Aldiano (bukan gue ya yang bilang!). Tapi ternyata bukan. Tapi ternyata sesuatu yang lebih asik! MAKAN-MAKAN GRATIS! Jadi ceritanya ada undangan gitu, omnya Juan diundang, Juan diajak. Dan karena Juan diajak, maka yang lain juga diajak.

Tapi ada masalah: nggak ada yang bawa baju formal. Sama sekali. Semuanya pake jeans, gue pake sneakers, dan Ivan pake sendal malahan. Gue bawa blazer sih, tapi blazer OSIS dengan lambang OSIS yang norak (dalam konteks kondangan).

Mungkin makanan itu harus kami bayar dengan rasa malu, tapi selama makanan itu enak, nggak pake bayar, halalan thoyyiban, dan siapa tau bisa juga ngeceng anak orang, kami pilih ikut ke undangan itu.

Datanglah kami ke gedungnya. Gedungnya gede, dan di parkirannya banyak (banget) Mercy dan Alphard.

Tengsin deh. Tapi yang penting makan.

Solat maghrib dulu, trus masuk lewat pintu samping, biar nggak malu-malu amat. Acaranya baru mulai, dan semua orang pake setelan jas atau batik, celana kain, dan pantofel. Ya iya lah. Bandingin dengan gue: jeans belel bau, polo shirt kusut, sneakers kuning kotor butut rusak, dan blazer OSIS yang berdebu dan kelebihan pewangi. Kontras, kan? Tapi ada satu hal yang sama di antara semua orang di ruangan itu, termasuk gue, sang saltum: hasrat menggebu-gebu untuk berburu makanan gratis.

Tapi gue harus menahan rasa lapar gue yang menggebu-gebu itu. Ada prosesi adat dulu, dan prosesi adat itu berbau tradisional (…). Gila, adat-adatan gitu deh. Pokoknya, adat banget! (…)

Kita berenam diajak ke backstage supaya terhindar dari silaunya baju-baju formal yang indah, supaya nggak keliatan kayak gembel atau pencuri yang diem-diem masuk. Heck, bahkan supir orang-orang terlihat lebih keren. Bete deh. Untungnya, di backstage ada makanan juga, buat famili terdekat, walau nggak banyak. Tapi itu juga gue nggak ambil banyak-banyak, soalnya masih banyak menu di luar yang siap untuk gue lahap.

Dan prosesi adat pun selesai. Tamu-tamu yang nggak kayak gembel salam-salaman dulu, karena mereka kenal dengan pengantin, tapi karena gue dan yang lain nggak, jadi kita nggak usah salaman. Awalnya, Marini, Citra, sama Ivan, bahkan Juan yang mengundang kami gembel-gembel nista ini, masih malu-malu. Ya udah, akhirnya gue ama Rany doang deh yang menjelajah ruangan, satu menu demi satu menu.

Pas awal-awal, kita juga masih malu. Ambil satu, kabur lagi ke backstage, dengan lagak famili sok dekat yang sok-sok alergi keramaian. Tapi karena stand yang deket pintu menuju backstage cuma satu, akhirnya kita berkeliaran deh. Mulai dari sesuatu yang berbentuk kebab, schizublabla chicken, waffles with ice cream, tekwan, kita lahap. Sebenernya lebih banyak lagi sih, yang kita ambil, tapi gue lupa apa aja. Gue dan Rany makannya dengan sopan, jumawa, tapi berusaha tidak menarik perhatian dengan makan di pinggir-pinggir, deket tiang-tiang atau dinding. Apalagi gue, bisa-bisa orang teriak-teriak histeris minta tanda tangan Vidi Aldiano (sekali lagi, bukan gue yang bilang gue mirip ya!). Bisa berabe kan?

Menu terakhir yang kita makan itu dim sum, dan dim sumnya enak banget! Gila, rasanya kayak dim sum gitu! Enak banget kan? (hmm) Abis itu, gue makan buah sebagai mouthwasher (pencuci mulut).

Dengan perut yang bulat, puas dengan macam-macam hidangan, kita pun retreat ke basecamp.

Sekitar jam 8, kita pulang. Jalanan di daerah Pasar Minggu rada macet, tapi nggak kerasa, soalnya pada tidur.

Krrrrr. (ceritanya ngorok)

ALSA 09, Part 1

24 April, 2009

Suatu siang hari di PIM, gue mau ketemuan sama Rina di Gramedia.

Maka gue bertanya kepada Pak Satpam.

Pak, PIM di mana ya?

The 13th ALSA National English Competition 2009 adalah sebuah lomba. Right. But it wasn’t only the debating that kept me company.

Rabu, 16 April kemaren, LO gue, Monic, ngasih tau bahwa besoknya harus rereg alias daftar ulang. Jam tujuh pagi. Gila aja, orang kita baru berangkat dari Bandung tuh siang-siang. Akhirnya dia bilang gapapa, nyusul aja gapapa, tapi kalo bisa dateng pagi-pagi besoknya ya ga masalah.

Ya udah, jadinya gue berangkat duluan jam 10 besoknya, bawa-bawa persayaratan syalalala. Sendirian. Alone. Kayak judul film apa gitu ya. Ehem.

Kamisnya, gue baru packing pagi-pagi, trus buru-buru ciao ke sekolah jam 9 kurang. Travelnya jam 10, dan semua persyaratan gitu belum gue isi. To to the LOL kan? Tapi kalo to to the LOL, jadinya toilet ketawa terbahak-bahak. Naondeui. Yak, sesampainya di sekolah, orang-orang lagi pada nonton T’sT di acara doa bersama, pakai seragam, dan gue nongkrong aja gitu di luar pake jeans dan kaos. Asoy. Akhirnya Rany, Juan, Citra, sama Ivan bisa keluar juga, jadi gue mintain tanda tangan sama foto, dan langsung cabut ke Baraya.

Oh ya, Marini belum ngasih ya? Tapi biarin ah. Daripada gue ngaret ditinggalin. Sampai di depan Baraya malahan gue ditelponin, takut ilang. Kayak kucing ilang. Bukan kucing garong. Tapi gimana kalo kucing yang garong adalah ilang? Atau kucing yang ilang adalah garong? Tapi gimana caranya kucing garong bisa ilang, kalo nggak ada yang menghilangkan? Dan bagaimana pula caranya kucing yang ilang bisa kucing yang garong, jika kucing yang tidak hilang bukan kucing garong?

Ah, syllogism. Iwan said Rivan’s gonna teach us that at the Camp. THE CAAAAMP~!

Dan dengan bahagia abadi senantiasa sentosa loh jinawi gue pun terduduk termenung di dalam travel. Di kursi depan. Di belakang kaca depan, alias windscreen. Di sebelah pintu (riiiiiiiiiight). Dan travel murah seharga 45 ribu saja pun mulai bergerak menuju Lenteng Agung.

Dan akhirnya nyampe juga. Jalan ke rumah tante gue, trus dianterin deh ke FHUI.

Dan Monic pun SMS. Katanya, udah telat kalo mau rereg hari ini. Beu. Ya udah, akhirnya gue nonton exhibition, nongkrong bareng Irfan, trus Monik (bukan Monic), dan bermimpi tentang THE CAAAAMP. Tapi lalu mereka harus latihan lagi buat lombanya, dan gue pun tertinggal sendiri.

So, gue ngebolang. Gue naik bikun dari FH ke stasiun kereta UI. Gue mau naik KRL! Gila, makhluk semacam apakah itu KRL? Apakah ia punya hidung yang pesek? Apakah ia ditenagai oleh listrik? Aku belum pernah tahu, maka aku ingin tahu. Tahu Sumedang. Eh, mending Tahu Tauhid.

Gue pun berjalan ke loket… mana ya loketnya? Ah, ada antrian orang. Ini kayaknya, loketnya. Beli tiket yang mana ya? Aduh, gue belum pernah naik KRL gitu loh! Aku bingung~! Tapi berhubung mas-mas di depan gue beli sesuatu yang bernama “EKONOMI JAKARTA”, gue ikutan deh. Nama benda itu terdengar logis. Gue mau ke Jakarta dan nggak mau bayar mahal-mahal. Tampaknya nama tiket yang cocok buat gue emang “EKONOMI JAKARTA”. Ya udah, gue pun beli satu biji. 1500 saja. Gila, luar biasa murahnya!

HAHAHAHA NORAK.

Lalu pertanyaan berikutnya, YANG MANA YA, KERETANYA? Ada satu kereta yang bentar lagi berangkat, itu bukan ya? Aduh, mas-mas depan gue ke mana pula? Jangan-jangan dia malaikat. Naondeui. Akhirnya dengan bijak gue pun memilih untuk nggak naik kereta itu. Takut nyasar.

Lalu ada satu lagi kereta yang ke arah berlawanan. Tapi “ke arah berlawanan” itu berarti ke Bogor atau ke Jakarta? Aduh, bingung.

Akhirnya gue putusin buat naik kereta yang ke arah pertama, dan gue pun mengadu nasib dengan naik itu.

First impressions? Keretenya nggak penuh sama sekali. Ada yang berdiri, tapi itu karena kursinya basah. Jakarta baru ujan, jadi nggak panas. Lumayan, kayak di angkot aja, tapi GEDE BANGET. Dan lebih murah!

Di kereta, ada beberapa orang yang jualan. Pertama, ada bapak-bapak yang jualan telor puyuh, kacang, dan lain-lain. Biasa aja. Yang itu jualannya pake sebuah mekanisme yang dibawa dengan diangkat. Kalo ada yang beli, tapi perlu kembalian, dagangannya bisa digantung ke baggage compartment. Kreatif.

Lalu yang kedua, jualan tahu sumedang. Yang ini mekanisme dagangannya beda. Bentuknya kayak trolley, dibuat dari stacks of fruit containers, presumably each containing tahu sumedangs (HAHA TAHU SUMEDANGS). Di bawahnya ada roda, jadi bisa didorong, walau agak stabil. Penjualnya nggak perlu capek-capek, tapi mobilitasnya lebih rendah daripada yang pertama tadi.

Lalu ada ibu-ibu lewat juga. Jualannya ajaib. Baru pertama kali ini gue liat ada orang jualan racun tikus di KRL. Oke, gue emang belum pernah naik KRL before, tapi tetap terdengar… unik! Ibu-ibu ini juga berjualan gunting dan home appliance lainnya. Harganya lima ribu. Dan ada ibu-ibu lain yang beli racun tikusnya.

I guess you only have that in Indonesia.

Kereta berhenti di Manggarai. Terminus, kayaknya (SOOOTOOOOOY!). Rencananya sih gue pengen ke Kota, biar jauh sekalian, tapi keretanya berhenti di Manggarai, dan gue pun bingung lagi! Gue coba nongol ke luar, ada busway gak ya? Kalo busway, gue udah lumayan hapal. Tapi kalo kereta, nggak ngerti bo.

Karena nggak ada busway dan cuma ada metro mini dan bajaj, akhirnya gue naik kereta balik ke arah Depok.

Tapi karena gue iseng, gue turun di Pasar Minggu. Waktu ke arah Manggarai tadi, gue liat ada tulisan TERMINAL PASAR MINGGU. Usually, kalo ada terminal bus, ada feeder busway juga. Tapi ternyata gue sotoy. Nggak ada busway, yang ada cuma bus kota dan angkot.

Akhirnya gue naik angkot. Kata Tante gue sih, waktu berangkat ke UI, kalo naik angkot dari Pasar Minggu, pasti lewat rumah. Ya udah, gue pun nyoba, dan just in case, gue konfirmasi dulu ke sopirnya.

Bang, (weits pake BANG), lewat TANJUNG BARAT nggak?”

Katanya, Iya. FYI, Tanjung Barat adalah nama stasiun yang terletak tepat di depan rumah tante gue. Tapi ternyata nama stasiun tidak selalu merepresentasikan nama daerahnya.

Angkot semakin menjauh dari rel kereta.

Akhirnya gue sampai di sebuah daerah, entah di mana.

Gue nyasar. Dan gue pun meng-sms temen gue, cerita bahwa gue ngebolang dan gue nyasar.

Mas-mas di sebelah gue baca. Dengan sopannya, dia bertanya, “Emang mas mau ke mana? Tanjung Barat udah lewat lho.”

Dengan santainya gue jawab, “Oh, nggak, cuma jalan-jalan aja. Ngebolang.” Dan gue pun nyengir kuda. “Itu jalur busway ya?”

Dia mengangguk, dan gue pun pamit. Gue turun di seberang halte busway.

Dan gue pun naik busway. Ke arah Kota. Gue berpikir, dari Kota tinggal naik kereta, langsung nyampe depan rumah.

But it was Jakarta in the afternoon. I forgot that people go home from work during this time of the day.

Untung, om gue ngingetin. Gue ditelpon, disuruh naik ke arah Kampung Rambutan, trus naik angkot ke arah Depok dari situ. Ya udah deh, so I did what he said, went to Kampung Rambutan, and looked for angkot 112 Depok–Kp Rambutan.

Dan gue pun bablas sampai Margonda.

Menyerah, gue turun, nyebrang jalan, dan naik Blue Bird sampai rumah.

To be continued…

On Nonvoting (an essay)

29 Maret, 2009

On Election Day, you go to the ballot box and cast a blank ballot – a vote for nobody. This form of political participation regarded perhaps unanimously as a valid form of aspiration. Perhaps you are dissatisfied with all the available options, or you deem yourself as unworthy of making a decision for the entire society. Both reasons are fine, as long as you do step in that ballot box and do submit a ballot sheet.

Then there is another, different case. You don’t go to the ballot box at all. You don’t even step out of your house or make any effort to participate in the elections. Possibly, you forgot to turn on your alarm clock and thus slept for the whole day. You might not know that there is even an election on the day. You might live in a geographically secluded area, far away from civilization. Or, you might be just plain lazy to care about politics. Or, you might have the same reasons as the first case – but you decide that you do not need to go to the ballot box at all.

In many countries in the past, the second case was highly prevalent among citizens. In Australia, in the early 20th century, voter turnout was as low as 40%. To solve this ‘problem’, the Australian government then decided to make voting compulsory.

But several questions then arise. Basically, are such regulations right?

To propose, it may be argued that firstly, voting is a ‘civic duty’, comparable to paying taxes. In a democratic country, it is the civilians who vote and elect the executive government and/or the legislative bodies, thus it becomes a duty for the civilians to vote. And because it is a civic duty, just like paying taxes, it is therefore just for the state to force citizens to go to ballot boxes.

It may also be argued that higher voting turnout results in a ‘more legitimate government’. There are various opinions as to what a more legitimate government means. Mathematically, a legitimate government can be associated with statistical formulae, and fewer voters would mean less valid statistics. A more legitimate government can also be defined as a government with more concessions from society. Society would ‘agree’ with whatever the outcome of the election by attending the elections and voting.

Philosophically, proponents may also argue that more voting turnout would result in a better quality of democracy itself. Since a democracy means a government ‘from’ the people, the more people that engage in elections – a democratic process that determines this government – the more from-the-people this government would be.

And proponents would also argue that compulsory voting is in line with civic education that teaches society to participate in politics, and that compulsory voting would result in a better political climate, in which pools of voters that originally did not vote would be more attractive as swing voters. A higher political awareness may also be realized, where the lazy part of society would be forced to learn more about politics and the political situation in their country. And the other parts of society, who didn’t vote just because they didn’t wake up, would then be forced to wake up, amid the more emphasis of voting that arises with compulsory voting.

Opponents, however, would beg to differ.

Those who oppose compulsory voting may firstly deny that lower voter turnout is a problem in itself. They regard that not going to ballot boxes is just as valid a voice as voting for nothing, thus ‘not going to ballot boxes’ would be just a civic duty as voting is.

Opponents would also do away with mathematics, and argue that society is already well-aware that along with the existence of elections, they have to accept the results of the elections, regardless of them voting or not, as citizens who must bow down to the law. If some people are not aware of the existence of elections or the rules that come along with them, it is always the duty of the government to socialize to these people about law.

Regarding democracy, it may be argued that the idea of democracy is not as simplistic as the existence of a society-elected government. Democracy is broad – the recognition of human rights and freedom of speech, also the concept of a justice system that treats society fairly, are also fundamental elements of democracy. Moreover, forcing mature people, of voting age, who are well-aware of their decision to not vote at all, into going to ballot boxes, would only be harming their freedom of choice, an element of democracy. These people should have the freedom to stay at home or do something else rather than doing something that they regard as useless.

For those who are lazy and careless, opponents may argue that if you force these people to mark a vote, their votes would be just as careless as they are. Maybe they would vote for nothing, but they may also vote for a candidate without rationally thinking of the consequences of voting for that candidate. They would not care about the candidate’s stances on issues nor their plans for the future. They may base their votes on the coolness of the party’s logo. If that is the case, their votes would only harm the results of the election, because people are supposed to vote only because they care about the fate of their country. Careless voters, of course, would not fit this criterion.

Opponents may also argue that a government that resorts to compulsory voting equals a government that surrenders its civic education framework. If civic education is successful and does lead to a society that does not go to the ballots because of rational reasons, why make voting compulsory? Political parties, those who oppose would argue, would already search for every single vote they can grab, even those in remote areas, so there is no need to make democracy worse by obliging people to vote.

And if you didn’t wake up on Election Day, surely your neighbours have the ‘civic duty’ of waking you up.

But then again, there are always two sides to a coin, and two stances to an issue. Heads or tails, to propose or to oppose, you decide.

Galav

11 Januari, 2009

Saya adalah seorang anak kecil, yang nggak tahu apa-apa. Anak kecil yang berpikir pendek, anak kecil yang polos.

Dan saya, sebagai anak kecil, yang nggak tahu apa-apa, polos, dan berpikir pendek, selalu tersenyum ceria.

Karena saya tahu di dunia ini, nggak ada orang yang jahat. Semua orang baik, semua orang damai, semua orang tenang.

Saya tahu saya nggak bisa selama-lamanya, tapi saya mau menjadi seorang anak kecil yang sama, yang optimis, yang punya mimpi, yang penuh dengan semangat dan harapan.

Saya mau menunggu, karena saya mau menunggu, karena saya percaya.

Dan saya akan menunggu matahari yang terbit di pagi hari, dan menanti bintang kejora di tengah malam.

Menunggu, meski dalam bisu, tanpa komunikasi, tanpa interaksi.

Menunggu seseorang yang datang selama dua hari, smsan selama seminggu, dan pergi untuk lima bulan.

Mungkin kamu bilang saya berlebihan, mungkin kamu bilang saya bodoh, tapi saya mau menyimpan harapan.

I’ll take the risks.

Bandung, 11 Januari 2009, 12.00 WIB/13.00 WITA.

Safir

6 Januari, 2009

Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh abg-abg labil, atau abg-abg sok labil, atau abg-abg labil sok filosofis seperti saya, adalah “Apa itu cinta?”

Banyak definisi yang bermunculan. Mulai dari cinta monyet, cinta jerapah, cinta laura (mencintai Laura), cinta cinta laura (mencintai Cinta Laura), Chinta Lawrah (mencintai pak lurah yang ngomongnya kayak Cinta Laura), telah banyak teori yang berusaha memasukkan konsep cinta dalam logika manusia. Ada yang bilang pacaran itu cinta, ada yang bilang menikah itu cinta, ada yang bilang hubungan kita dengan Ibu adalah cinta. Ada juga yang mengadakan acara pada tanggal 14 Februari, dengan cinta sebagai tema mereka, dan mengatakan bahwa cinta itu universal.

Saya juga nggak tahu jawabannya apa. Belakangan ini, malahan saya diprotes karena hati dan otak itu nggak bisa disatuin, kayak air dan minyak. Tapi kalau pake sabun kan air dan minyak bisa nyatu? Tapi kalau cinta itu nggak logis, kenapa cinta bisa eksis, dan kenapa manusia bisa mengaku cinta?

Cinta adalah sebuah konsep yang abstrak, atau nama wanita, atau nama waria, atau nama pria yang bernama Cinta.

Definisi cinta favorit saya, yang baru saya baca juga dari buku yang saya pinjam dari teman saya, A Cat in My Eyes oleh Fahd Djibran:

Cinta adalah jawaban, Zira, bukan pertanyaan.

Berarti, terserah kita, cinta itu apa. Apakah cinta berubah seiring dengan bertambah dewasanya kita atau nggak, apakah cinta itu kekal atau tidak abadi, apakah cinta dapat membunuhku, mungkin semuanya valid.

Cinta, menurut saya, membuat manusia bahagia. Berapa film yang diputar di bioskop, di dvd, di layar tancap, di projektor dari dvd bajakan, yang happy ending-nya bersangkut paut dengan cinta? Banyak. Berapa sinetron yang menggunakan tema cinta? Terlalu banyak.

Mungkin pada akhirnya, saya yang mengatakan bahwa cinta itu terlalu pasaran, bahwa pada akhirnya cinta itu basi, bahwa sebenarnya hidup bisa tanpa cinta.

Tapi teman-teman saya banyak yang pacaran, dan mereka bahagia. Iya, mungkin pacaran adalah sesuatu yang dangkal, tapi kebahagiaan, menurut saya, tidak.

Apa lagi dua sahabat kamis saya. Dua pasangan orang yang sama-sama jago menulis. Dua pasangan orang-orang yang sangat beruntung, dan sangat berbakat.

Dan saya termenung sendiri di pojok ruangan, menjomblo. Tenggelam dalam kesibukan, cuek dalam kesendirian. Dan saya menikmati kejombloan saya.

Saya takut pada cinta. Saya takut cinta akan datang, pergi, dan meninggalkan luka di saya, dan orang lain.

Mungkin saya nggak salah, mungkin sendiri itu nggak apa-apa.

Lalu pada suatu hari, probabilitas menemukan saya pada seseorang.

Seseorang yang baik hati, menarik, dan mengagumkan.

Kami berbincang tentang banyak hal. Tentang dia, tentang saya, tentang dunia.

Saya bahagia, dalam sense yang berbeda. Saya namakan itu cinta.

Saya berkontradiksi, tapi saya menyerah pada tren bahwa kontradiksi itu wajar, penting malahan.

Tapi dia harus pergi ke seberang lautan. Kami takkan saling memandang dalam waktu yang lama.

Apa yang akan terjadi dalam waktu selama itu, saya tidak tahu. Dia tidak tahu. Kamu tidak tahu.

Tapi mungkin saya tidak usah peduli.

Karena dia datang, saya bahagia. Karena dia pergi, saya sedih.

Tapi, karena dia ada, aku ingin bahagia.

108252219 milliseconds

30 Desember, 2008

Dua ribu delapan akan tutup buku, tutup jendela, dan tutup celana, dalam kurang lebih dua puluh lima jam.

Tentu saja, kontinuitas waktu terlalu luas untuk disempitkan dan dibelah-belah menjadi potongan-potongan yang diberi nama ‘tahun’, tapi toh hidup ini memang sempit, dan tidak ada artinya (bagi saya, setidaknya) memperluas makna kehidupan melebihi apa yang bisa dicerna logika.

Wahai domba-domba yang tersesat, apa yang ingin kau lakukan tahun depan?

Tahun 2009, bagi saya, adalah salah satu momentum puncak dalam kehidupan seorang bocah Indonesia. Semester dua kelas sebelas, yang berarti puncak berbagai macam kegiatan. Enam bulan terakhir kepengurusan OSIS, yang harus menunjukkan taringnya kepada dunia, dan tidak sebatas pagar luar sekolah. Dan dua lagi momen pembuktian, atau mungkin selama ini lebih tepat pembantaian, usaha saya di bidang akademis: bagi rapot.

Saya punya banyak resolusi, but on the top of it, are a few.

2009 adalah tahun di mana saya akan mewakili Jawa Barat di ISDC, bareng Hana Hanifah dari SMAN 5 Bandung dan Felicia Novina dari Regina Pacis. Tahun lalu, Jawa Barat menyandang gelar juara, dan saya ingin mempertahankan itu. Chris, dari Smuki Bandung, lanjut ke WSDC. That, my friend, is a personal dream of mine. Sekalian kesempatan PMDK HI UNPAR supaya nggak susah nyari kuliah, muahahaha.

2009 adalah tahun ThursdayPeople.com. I have two buddies who are great dreamers, great writers, great spenders (HMMM) and most of all, great friends. Semoga *** *** dengan tenang, muahahaha.

2009, OSIS LVI berencana menyelenggarakan sebuah acara puncak, setelah redup selama tiga tahun. Sekalian, SEF3 ikutan nyelenggarain debate championship.

2009… saya bosan menjadi jomblo.

HAHAHA naondeui.

Jadi, wahai domba-domba yang tersesat, apa yang akan kamu lakukan di tahun 2009?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.